Hati-Hati Cari Buku Cerita Anak di Play Store, Bakal Muncul Konten Dewasa

SINYALMAGZ.com – Berhati-hatilah jika ingin mencari buku cerita untuk anak-anak di Google Play Store. Pasalnya, alih-alih mendapat buku cerita anak, pengguna malah akan menemukan buku-buku bermuatan konten dewasa!

Buku-buku bermuatan konten dewasa ini akan muncul pada kategori “Movie & Books” saat pengguna melakukan pencarian dengan kata kunci “Buku Cerita Anak”.

Hasil pencarian tersebut akan muncul pada smartphone dengan setting-an antarmuka bahasa Inggris.

Dikutip dari laman Kompas.com, Rabu (13/3/2019), ada sejumlah buku bermuatan konten dewasa yang dijual secara bebas di sana. Meski kontennya tidak menampilkan unsur-unsur ketelanjangan secara utuh, namun gambar yang ditampilkan tetap bernuansa sensual dan erotis secara visual.

Buku ini tentu tidak cocok jika ditampilkan sebagai hasil pencarian dari kata kunci “Buku Cerita Anak”.

Belum diketahui bagaimana buku-buku ini bisa lolos dari kurasi Google dan muncul di Play Store dengan dalih unsur “artistik” pada gambar-gambar yang dimuat.

Beberapa buku menyebutkan bahwa mereka tidak akan menggambarkan unsur ketelanjangan dan hanya ingin memperlihatkan unsur “seni” dari konten dewasa.

Meski demikian, mengapa buku-buku konten dewasa itu bisa muncul dengan keyword anak, tetap layak dipertanyakan.

Terkait temuan ini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak Google Indonesia.

Google sendiri sejatinya memiliki aturan khusus terkait konten dan rating untuk semua yang dimuat di dalam Google Play Store. Bahkan, di dalam halaman aturan Google Play Store tertera jelas bahwa Google melarang semua aplikasi anak-anak yang mengandung tema dewasa.

“Kami melarang aplikasi yang menarik minat anak-anak tetapi mengandung tema dewasa. Kami tidak mengizinkan aplikasi yang berisi atau mempromosikan konten seksual eksplisit, misalnya pornografi. Secara umum, kami tidak mengizinkan konten atau layanan yang ditujukan untuk memberi kepuasan seksual.”, tulis Google.

Predator Anak Senang Berburu Korban di Instagram

Sementara itu, baru-baru ini juga dilaporkan bahwa aplikasi berbagi foto dan video, Instagram, ternyata menjadi media sosial (medsos) paling digemari oleh para pelaku pedofil atau predator anak dalam menjaring korbannya.

Informasi ini diketahui berdasarkan sebuah laporan dari National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), yakni sebuah lembaga yang berupaya mencegah kekerasan terhadap anak-anak.

Dalam menyelenggarakan penelitiannya itu, para peneliti di NSPCC juga mengajukan permintaan kebebasan informasi terhadap kepolisian di Inggris dan Wales. Mereka meminta data tentang insiden komunikasi seksual dengan korban anak-anak yang dilaporkan.

Polisi yang menanggapi permintaan dari NSPCC pun merinci, tercatat ada 5.161 insiden komunikasi seksual sejak April 2017.

Jumlah peningkatan pelanggaran hampir 50 persen dalam enam bulan terakhir dibandingkan periode yang sama dengan tahun lalu.

Diketahui, tujuh dari sepuluh korban ternyata adalah anak-anak berusia 12  -15 tahun, atau lebih muda. Bahkan, korban termuda berusia 5 tahun saat ditarget sebagai calon korban.

Hasil penelitian tersebut juga mencatat, Instagram sebagai platform yang paling banyak digunakan untuk menghubungi anak-anak (sebesar 32 persen), lalu diikuti Facebook (23 persen), dan Snapchat (14 persen).

Tercatat, anak-anak yang menjadi sasaran pelecehan melalui Instagram meningkat tiga kali lipat dalam 18 bulan terakhir.

 

Halaman selanjutnya:

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled