WWW.SINYALMAGZ.COM – SpaceX milik Elon Musk resmi menyepakati pembelian portofolio spektrum frekuensi low-band secara nasional dari Grain Management. Langkah strategis ini semakin mempertegas ambisi SpaceX untuk bersaing langsung dengan para operator seluler besar di Amerika Serikat dalam merebut pelanggan seluler.
Transaksi untuk seluruh portofolio spektrum frekuensi 800 MHz berpasangan hingga 14 MHz milik Grain Management ini masih menunggu persetujuan regulasi dari Komisi Komunikasi Federal AS (FCC). Sayangnya, rincian nilai finansial dari akuisisi ini tidak dipublikasikan.
Melalui unggahannya di platform X, Musk menegaskan bahwa akuisisi ini merupakan potongan teka-teki spektrum terakhir yang sangat krusial bagi SpaceX untuk menghadirkan jangkauan sinyal telepon seluler secara menyeluruh di seluruh penjuru Amerika. Pernyataan tersebut ia sampaikan untuk menanggapi keraguan publik terhadap strategi direct-to-device (D2D) milik organisasinya.
Pihak SpaceX menjelaskan bahwa spektrum mid-band 2 GHz global milik Starlink Mobile akan menyediakan jangkauan berkapasitas tinggi di AS. Sementara itu, frekuensi low-band yang baru diakuisisi ini bertugas menembus berbagai hambatan fisik seperti dinding bangunan serta memperkuat sinyal di dalam ruangan (indoor). SpaceX juga menambahkan bahwa sebagian besar perangkat seluler yang ada saat ini sebenarnya sudah mendukung pita frekuensi tersebut.
Untuk menghadirkan jangkauan seluler 5G, SpaceX berencana memadukan jaringan satelitnya dengan femtocell berbasis darat. Meski demikian, rencana ini masih dinilai cukup tidak realistis oleh sejumlah eksekutif di industri telekomunikasi.
SpaceX optimistis spektrum low-band ini mampu menutupi celah teknis utama yang tersisa, sekaligus membuka jalan bagi Starlink Mobile untuk menjelma menjadi salah satu operator seluler utama di AS. Perusahaan menyatakan bahwa begitu persetujuan FCC didapatkan, mereka akan menerapkan arsitektur jaringan fleksibel yang menggabungkan konstelasi satelit-ke-seluler di ruang angkasa dengan penempatan infrastruktur darat canggih agar mampu menghubungkan berbagai perangkat secara mulus di mana saja.
Langkah ini menjadi bukti keseriusan SpaceX dalam merealisasikan layanan D2D untuk menantang dominasi para raksasa telekomunikasi AS seperti T-Mobile US, Verizon, dan AT&T. Kemenangan regulasi pun telah mengalir; pada 6 Oktober, SpaceX mengamankan izin dari FCC untuk meluncurkan 15.000 satelit generasi baru demi mendukung proyek D2D tersebut.
Sebagai latar belakang, pada Agustus lalu, T-Mobile US telah merampungkan penjualan portofolio spektrum 800 MHz miliknya kepada Grain Management. Transaksi senilai Rp51,62 triliun dalam bentuk tunai tersebut juga mencakup penukaran seluruh lisensi spektrum 600 MHz milik Grain Management, setelah melalui kesepakatan prinsip selama lebih dari satu tahun.
Sebelum menjualnya ke SpaceX, Grain Management sempat berencana menggaet perusahaan spesialis energi dan infrastruktur, Black & Veatch, untuk memasarkan spektrum tersebut kepada penyedia fasilitas umum, operator infrastruktur vital, serta penyedia layanan seluler di wilayah pedesaan dan regional.(*)
BACA JUGA: T-Mobile Starlink Bikin Koalisi Direct to Cell

