WWW.SINYALMAGZ.COM – Mantan peneliti Anthropic, Jacob Coxon, menyatakan keyakinannya sebesar 90% bahwa mata-mata China telah menyusup ke dua perusahaan kecerdasan buatan (AI) terkemuka di Amerika Serikat. Ia memperingatkan bahwa Beijing bisa saja mencuri berbagai terobosan teknologi tersebut, terlepas dari apakah para pengembang di AS memilih untuk memperlambat kemajuan mereka atau tidak.
Ia berpendapat bahwa potensi spionase ini merusak gagasan bahwa Amerika Serikat dapat mempertahankan keunggulannya di bidang AI hanya dengan mengendalikan laju pengembangan di dalam negeri. “Satu hal penting yang tidak disadari banyak orang adalah bahwa China sudah memiliki mata-mata di OpenAI dan Anthropic. Sangat hampir pasti mereka ada di sana… Lagipula, belum ada proses pemeriksaan latar belakang (background check) yang benar-benar serius untuk hal semacam ini,” ujar Coxon.
Tudingan mengenai spionase China ini muncul setelah kepindahan Coxon dari Anthropic, di mana ia mengaku semakin khawatir terhadap arah pengembangan AI. Isu ini juga mengemuka di tengah perdebatan hangat tentang apakah perusahaan pembuat sistem AI tingkat lanjut—yang menurut CEO Anthropic, Dario Amodei, bahkan berpotensi menyembuhkan kanker—dapat berinovasi dengan penuh tanggung jawab serta melindungi teknologi mereka secara memadai.
Saat ini, para pembuat kebijakan sedang aktif berdiskusi mengenai apakah AS harus mempercepat pengembangan AI demi menjaga keunggulan kompetitif atas China, atau justru menerapkan batasan hukum dan pengamanan yang lebih ketat untuk mengatasi potensi risikonya.
Namun, pernyataan terbaru Coxon menambahkan dimensi baru dalam perdebatan tersebut: bisakah Amerika Serikat secara efektif mengendalikan risiko pengembangan AI jika hasil terobosan sensitif tersebut sudah dapat diakses oleh pesaing asing?
Coxon menegaskan bahwa meskipun perusahaan AI asal AS berhasil memimpin jauh di depan pesaing China, keunggulan itu mungkin tidak akan bertahan lama karena hasil riset dan terobosan teknologi dapat dicuri sewaktu-waktu.
“China memiliki kemampuan untuk meretas kapan saja,” kata Coxon. “Jika kita memimpin di depan, itu tidak memberi kita jarak aman yang besar. Mereka bisa masuk kapan saja, mencuri kemajuan kita, lalu menyusul.”
Sebaliknya, ia percaya jika Amerika Serikat memperlambat lajunya, China pun kemungkinan besar akan mengalami hal serupa. “Jika kita melambat, kemungkinan besar laju China juga akan cukup melambat, karena saat ini sebagian besar kemajuan mereka pada dasarnya berasal dari meniru atau mencuri karya AS—memang tidak semuanya, tetapi ada komponen tersebut.”
Meskipun Coxon tidak menyebutkan nama maupun memberikan bukti untuk mendukung tuduhannya—sehingga pernyataannya belum membuktikan secara pasti adanya agen intelijen China di dalam kedua perusahaan tersebut—pandangannya bukan hal yang terisolasi. Kekhawatiran ini sejalan dengan meningkatnya narasi ancaman terhadap keamanan nasional akibat pengembangan AI tingkat tinggi dan sengitnya persaingan antara AS dan China.
Coxon sendiri mengundurkan diri dari Anthropic pada bulan September dan sejak saat itu aktif memperingatkan publik bahwa perlombaan mengembangkan AI yang makin canggih dapat memicu risiko serius jika perusahaan lebih memprioritaskan kemajuan teknologi ketimbang keselamatan. (*)
BACA JUGA: Ancaman Bagi Dominasi AS, Teknologi AI China Hanya Tertinggal 3%
