Laba Telkomsel Rp 25 T, Lebih Besar dari Telkom

PT Telkomsel (Telekomunikasi Selular), anak perusahaan PT Telekomunikasi Indonesia (PT Telkom), pada tahun 2020 meraih laba sebesar Rp 25,06 triliun, turun dibanding tahun sebelumnya yang Rp 25,79 triliun. Pendapatan operator seluler terbesar di Indonesia itu juga turun pada periode sama dari Rp 91 triliun menjadi Rp 87 triliun.

Meski “wajar” turun di masa pandemi Covid-19 yang berlangsung hampir sepanjang tahun 2020, namun laba Telkomsel masih jauh lebih besar dibanding induknya, PT Telkom, yang ”hanya” Rp 20 triliun. Umum mengetahui, sekitar 70 persen lebih pendapatan PT Telkom didapat dari anak perusahaannya yang punya 169,5 juta pelanggan itu.

Laba Telkomsel sebesar Rp 25 triliun tidak dinikmati sendiri selain yang disetor ke induknya sebesar Rp 16,25 triliun, sisanya sebesar Rp 8,75 triliun harus diserahkan ke Singapore Telecom (SingTel) sebagai pemilik 35 persen saham Telkomsel. Ditambah dari laba beberapa anak perusahaannya yang sampai Rp 3,75 triliun, laba bersih total PT Telkom menjadi sebesar Rp 20 triliun.

Dukungan Telkomsel kepada induknya dengan madu yang manis itu memang didapat terutama dari kenaikan trafik data yang cukup besar, sampi 43,8 persen sepanjang tahun 2020 menjadi 9.428 petabyte. Bisa dimaklumi, akibat Pandemi Covid-19 yang mengubah kehidupan total manusia menjadi kenormalan yang baru, penggunaan ponsel untuk kegiatan sehari-hari meningkat pesat, pelanggan data Telkomsel pun naik pesan menjadi 115,9 juta.

Perkantoran membatasi jumlah karyawan yang boleh masuk dengan separuhnya, ada yang kantornya jumlah batas maksimalnya sampai 25 persen karyawan, dengan konsep WFH (work from home). Keprihatinan meluasnya sengatan virus corona yang terbukti dari  laporan bahwa perkantoran menjadi klaster baru virus, membuat banyak kantor meminimalkan jumlah karyawan yang boleh mengisi daftar absen di kantor.

Di semua tingkat pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi juga melakukan pembelajaran online, atau PJJ (pembelajaran jarak jauh), dan anak-anak TK dan PAUD (pendidikan anak usia dini) diliburkan sepanjang tahun. Ketika konon pertumbuhan jumlah penderita corona menurun dan sekolah diimbau mulai melakukan pembelajaran tatap muka, ibu-ibu menolak dengan keras.

Tergantung efisiensi

PJJ menjadi dianggap lebih praktis, hemat pengeluaran, kontrol kepada anak lebih efektif, dan aman dari penyakit. Hemat dari biaya transpor, jajan anak, iuran yang karena PJJ dipotong 10 persen, anak selalu ada di rumah sehingga ketahuan aktivitasnya, serta bisa menjauh dari kemungkinan penularan covid.

Akhirnya sektor telekomunikasi pun menjadi satu-satunya industri yang menangguk untung akibat Covid-19. Walaupun, operator papan atas lainnya, Indosat dan XL Axiata selain Tri dan Smarfren, kabarnya tidak terlalu menggembirakan, ada yang untung sedikit, ada yang masih merugi.

Beda dengan Telkomsel, pendapatan PT Indosat Ooredoo, mengalami kenaikan dari Rp 26,117 triliun tahun 2019 menjadi Rp 27,925 triliun di tahun 2020. Tetapi Indosat belum meraih laba, mereka masih merugi dengan Rp 716 miliar, yang turun dari rugi di tahun 2019 yang sebesar Rp 1,568 triliun, dengan jumlah pelanggan lebih dari 60 juta.

Sementara pendapatan XL Axiata pada tahun 2020 sebesar Rp 26 triliun, naik dari tahun sebelumnya yang Rp 25,132 triliun, namun labanya juga ikut turun dari Rp 712,5 miliar menjadi hanya Rp 317,6 miliar, sementara pelanggan naik satu juta menjadi 58,7 juta.

Tidak usah bicara soal Smartfren yang masih merugi sekitar satu triliun rupiah, meski itu kerugian yang lebih kecil dibanding tahun sebelumnya. Atau Hutchison Tri Indonesia (Tri), yang karena bukan perusahaan yang go public, tidak ada kewajiban melaporkan keuangannya.

Namun yang jelas, industri telekomunikasi seluler masih punya kesempatan untuk tumbuh di tahun-tahun berikutnya. Bukannya berharap bahwa Covid-19 masih ada dan menjadi pendorong pertumbuhan pendapat operator, tetapi kenyataan bahwa pengguna ponsel pintar yang memanfaatkan data di semua operator tercatat naik jumlahnya.

Tinggal sebesar apa efisiensi yang dilakukan si operator dalam menjalankan perusahaannya, mengelola layanan kepada masyarakat pelanggannya. Memang tidak ada kamusnya operator-operator itu akan menyaingi Telkomsel, karena perbedaan jaraknya dalam segala bidang, jumlah pelanggan dan pendapatan, memang jauh. Apalagi Telkomsel sudah ada di mana pun, sampai desa-desa kecil sekalipun. (hw)

 

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled