WWW.SINYALMAGZ.COM – OTT telah mengubah nilai ekonomi industri telekomunikasi: mereka memonetisasi perhatian dan data sedangkan operator masih mengandalkan penjualan kapasitas. Namun posisi operator tidak mustahil — modalnya adalah akses ke infrastruktur, data jaringan agregat, dan distribusi billing/retensi.
Dengan strategi platform, kolaborasi terukur, serta fokus pada B2B/layanan nilai tambah, operator telco Indonesia bisa kembali memenangkan bagian besar nilai ekonomi digital.
Apa saja langkahnya?
Jangka Pendek (0–12 bulan)
- Bundling & Revenue Sharing: Tawar paket bundling eksklusif dengan OTT populer (streaming, gaming, e-commerce) yang memasukkan mekanisme revenue share sehingga operator mendapat bagian dari pendapatan layanan.
- Pilihan QoS Berbayar untuk OTT Mitra: Tawarkan layanan prioritas (mis. QoS untuk cloud gaming/streaming) dengan fee to OTT atau fee to user (zero-rating dengan mekanisme fair).
- Monetisasi Data Agregat Secara Etis: Mulai produk insight anonymized (B2B) untuk pengiklan/agencies, dengan kepatuhan ketat pada privasi.
- Perkuat kanal distribusi digital (app, billing in-app, 1-click top-up) untuk menangkap nilai transaksi pengguna di dalam ekosistem.
Jangka Menengah (12–36 bulan)
- Bangun/akuisisi platform consumer sticky: e-wallet, marketplace vertikal, atau platform hiburan lokal yang memiliki engagement tinggi—tujuan: pindahkan sebagian ARPU ke layanan non-data.
- Investasi di 5G use cases komersial: fokus pada B2B (industrial IoT, private 5G, cloud gaming enterprise) yang membayar margin lebih tinggi daripada paket konsumer murni.
- Kemitraan ekosistem konten lokal: dukung produksi konten lokal (short form & long form) yang mengikat pengguna dan menjual inventori iklan lokal.
Jangka Panjang (3-5 Tahun)
*Transformasi ke Digital Service Provider (DSP): reorganisasi unit bisnis agar telco ikut mengoperasikan marketplace layanan digital (fintech, healthtech, edutech) — bukan sekadar pipa.
*Lobby regulasi pro-kompetitif: bekerja bersama industri untuk mengadvokasi aturan yang menciptakan lapangan bermain seimbang (mis. pajak digital, aturan perlindungan konsumen, kontribusi infrastruktur).
*Talenta & budaya agile: program re-skilling massal, akuisisi startup, insentif bagi unit yang mampu menciptakan produk digital skalabel. (*)
BACA JUGA: Ketika Cuan Operator Digerus OTT
