Merger Indosat – 3 Efektif 4 Januari 2022, Akankah Menyusul Telkomsel?

WWW.SINYALMAGZ.COM – Kesepakatan penggabungan usaha – merger – PT Indosat Ooredoo dan PT Hutchison Tri Indonesia (3), akan efektif dimulai pada 4 Januari 2022, pekan depan, setelah melalui beberapa penundan dan pematangan kesepakatan. Aksi korporasi terbesar yang pernah dilakukan di industri telekomunikasi Asia dengan nilai sekitar Rp 85 triliun itu melibatkan dua raksasa telekomunikasi Asia, Kelompok Ooredoo dari Qatar dan CK Hutchison Asia, Hongkong.

Dari merger itu didapat keuntungan langsung dan tidak langsung, setidaknya mulai terjadinya efisiensi di industri padat modal tadi, dengan pengurangan-pengurangan duplikasi kegiatan dan investasi. Kalau sebelumnya untuk satu tempat pengadaan BTS (base transceiver station) dilakukan masing-masing operator, kini hanya satu sehingga jaringan bisa diperluas tanpa menambah modal yang besar.

Namun SDM yang sama untuk suatu pekerjaan, dikatakan dijamin tidak akan ada yang dilepaskan. Baik di bagian pendukung, back office, maupun di lapangan, walau selama ini pekerjaan di lapangan untuk infrastruktur milik Indosat ditangani pihak luar.

Dari sisi layanan, segmen-segmen yang dilayani masing-masing operator berbeda, di perusahaan hasil merger tadi yang namanya di Bursa Efek menjadi PT Indosat Ooredoo Hutchison, masih dilayani seperti semula. Pelanggan Tri yang kebanyakan anak muda akan tetap menikmati tarif bersahabat, demikian pula pelanggan prabayar IM3, serta pelanggan pascabayar premium Indosat.

Merger memadukan kedua entitas dengan harapan usaha mereka akan lebih berkembang, juga merangsang dua operator lain yang masih “bekerja sendiri”, PT XL Axiata dan PT Smartfren Telecom. Kabar angin menyebutkan keduanya sudah pula melakukan pembicaraan, walau belum pernah secara resmi disampaikan namun semua mengakui, efisiensi industri merupakan hal terbaik.

Satu hal menarik dari merger ini, “otak” konsolidasi industri, mantan Menkominfo Rudiantara, akan duduk sebagai komisari independen. Diketahui, selama 5 tahun menjadi Menkominfo Rudiantara sangat getol mendorong konsolidasi, setidaknya kerja sama dalam pemanfaatan infrastruktur yang sebenarnya merupakan investasi termahal operator.

Valuasi Rp 102 triliun

Di jajaran direksi, kedua presiden direksi tidak lagi duduk di kursinya, sebab Direktur Utama PT Indosat Ooredoo Hutchison akan disandang Vikram Sinha, sebelumnya Direktur PT Indosat Ooredoo. Mantan Dirut 3, Cliff Woo Chiu Man menjadi komisaris, sementara mantan Wapresdir 3, Moh Dany Bulandansyah menjadi direktur, bersama rekannya di 3, Lee Chi Hung yang didapuk menjadi direktur keuangan.

Ada dua direktur lain di IOH, Armand Hermawan dan direktur independen Irsyad Sahroni, mantan direktur Indosat Ooredoo.

Mantan Dirut Indosat Ooredoo, Ahmad Abdulaziz AA Al Neama kini menjadi komisaris, sementara komisaris utama dijabat Canning Fok Kin Ning. Jajaran komisaris lain adalah Rene Heinz Werner, Nigel Thomas Byrne, Frank John Sixt, Patrick Waluyo, Meirijal Nur, dan selain Rudiantara sebagai komisaris independen ada lagi nama Elisa Lumbantoruan, Wijayanto Samirin, Syed Maqbul Quader, dan Hernando.

Dengan merger, pemilikan saham Indosat Ooredoo Hutchison menjadi 32,8% milik Ooredoo Asia, sejumlah sama (32,8%) milik CK Hutchison, PT Tiga Telekomunikasi Indonesia sebanyak 10,8%, Pemerintah Indonesia 9,6% dan publik 14%.

Merger ini membuat valuasi perusahaan menjadi sekitar Rp 102 triliun dengan 104 juta pelanggan gabungan. Meskipun pemerintah mengambil 10 MHz frekuensi mereka di spektrum 2,1 GHz (5X2MHz), IOH memiliki peluang besar memperluas jaringan dan menambah jumlah pelanggannya serta menaikkan ARPU (average revenue per user – rata-rata pendapatan dari tiap pelanggan).

Saat terakhir sebelum merger, ARPU Indosat Ooredoo mencapai Rp 33.900,  ARPU 3 Rp 21.400 dan dalam dua tahun ke depan, diperkirakan pendapatan perusahaan baru itu menjadi 4,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 60,5 triliun. Pendapatan sembilan bulan terakhir Indosat Ooredoo mencapai Rp 23,05 triliun sementara pendapatan 3 pada saat sama Rp 10,27 triliun.

Jadi BUMN

Tawaran-tawaran layanan premium dan segmentasi pelanggan dari IOH, diperkirakan akan ditanggapi positif calon pelanggan baru mereka dalam dua tahun ke depan dan seterusnya. Jika saja IOH tetap mempertahankan tarif layanan saat ini khususnya tarif di kawasan barat Indonesia, ketika mereka memasuki kawasan baru di timur skema tarif tadi akan menjadi daya tarik kuat. Bukan tidak mungkin, akan banyak pelanggan menjadikan IOH sebagai kartu kedua pelanggan Telkomsel, hanya untuk mencari tarif data yang lebih murah.

Saat ini, dari 272 juta penduduk Indonesia dengan warga potensial menggunakan ponsel sejumlah 200 juta, ada sekitar 354 juta nomor ponsel aktif dari lima operator, Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, 3 dan Smartfren. ARPU tertinggi dikuasai Telkomsel dengan Rp 45.000 (Rp 540.000 setahun) dengan 169 juta pelanggan, dan ARPU XL Axiata Rp 36.000 (Rp 43.200 setahun) dengan pelanggan 59 juta.

Indosat Ooredoo Hutchison dramalkan menjadi operator telko terbesar kedua di Indonesia, dengan kemampuan membesarkan jumlah pelanggannya, karena potensi kawasan yang belum dibukanya masih sangat luas. Apakah bisa menyusul Telkomsel, masih menjadi pertanyaan besar, sebab ketika IOH membesar, Telkomsel pun tidak akan tinggal diam, apalagi mereka punya kemampuan untuk berkembang.

Apalagi dalam dua tahun ke depan, posisi Telkomsel akan sejajar dengan PT Telkom, keduanya pun sudah dipisah-pisah jenis usahanya oleh Menteri BUMN, Telkom lebih ke  bisnis prasarana sementara Telkomsel ke ritel. Bahkan, bisa jadi, Telkomsel akan bermetamorfosa menjadi entitas bisnis sendiri –  menjadi BUMN mandiri – dan tidak lagi jadi anak perusahaan PT Telkom, sehingga langkah bisnis mereka lebih lentur.

Dibanding IOH, kelebihan Telkomsel kelak adalah, keberpihakan pemerintah kepada BUMN yang lebih besar dibanding kepada entitas swasta, hal yang sudah terbukti sejak beberapa tahun ini. Namun tetap saja, bukan tidak mungkin IOH berkembang lebih cepat, apalagi kalau XL Axiata dan Smartfren bergabung. Ini yang harus diwaspadai.

Namun jelas di situasi zero sum game, ketika ada tambahan pelanggan di satu operator  berarti ada pelanggan operator lain yang keluar, upaya menambah pelanggan tidaklah menjadi prioritas Telkomsel, meskipun kesempatan tetap terbuka dengan adanya kartu SIM lebih dari satu. Telkomsel lebih fokus ke memperbesar sumber penghasilan berupa akuisisi atau mendorong startup potensial, memperluas layanan video lewat Maxstream, selain memperkuat dukungan pada game, hal yang belum terlalu dilirik operator lain termasuk IOH.(*)

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled