WWW.SINYALMAGZ.COM – Hadirnya Samsung Galaxy S25 Edge yang hanya setebal 5,8 mm mengindikasikan faktor fisik smartphone akan pegang peran penting. Samsung Galaxy S25 Edge disebut melalui sebuah proses uji yang tidak mudah. Ini karena dengan bodi tipis memungkinkan munculnya persoalan sirkulasi panas pada perangkat.
Samsung langsung membeberkan. “Beberapa orang mungkin khawatir bahwa ponsel yang lebih tipis akan mengganggu kinerja atau kesulitan dalam manajemen panas,” kata Wakil Presiden Eksekutif Samsung Electronics Moon Sung-hoon.
“Kami berhasil merekayasa ruang uap yang lebih tipis agar sesuai dengan desain yang ramping, dan kami mengerahkan segala upaya untuk mewujudkannya. Kami yakin S25 Edge dapat digunakan tanpa khawatir akan panas berlebih,” kata Moon.
Mengapa Samsung sangat berambisi memproduksi smartphone dengan bodi setebal 8 tumpukan kartu kredit itu?
Setelah bertahun-tahun produsen berfokus pada peningkatan kamera, daya tahan baterai, dan performa chipset, kini industri kembali ke arena yang pernah ramai di awal 2010-an. Yakni smartphone slim.
Setidaknya ada tiga alasan yang membuat tren smartphone slim kembali menguat. Antara lain;
Estetika Minimalis Modern
Pengguna masa kini, terutama Gen Z dan milenial, semakin menghargai desain ramping, ringan, dan elegan. Smartphone yang tipis terasa premium, mudah dibawa, dan cocok dipadukan dengan gaya hidup urban.
Teknologi Baterai dan Chipset yang Lebih Efisien
Terobosan dalam baterai solid-state dan efisiensi energi chipset memungkinkan produsen menyusutkan ukuran baterai tanpa mengorbankan daya tahan. Snapdragon 8 Gen 4 dan chip Apple A19 misalnya, mendukung performa tinggi dengan konsumsi daya yang jauh lebih rendah.
Desakan Pasar Flagship
Dalam pasar flagship yang mulai jenuh, diferensiasi lewat ketebalan menjadi nilai jual baru. Konsumen sudah melihat layar 120Hz, kamera periskop, dan pengisian daya cepat sebagai standar. Kini, desain tipis menjadi pembeda.
Namun tidak mudah melahirkan sebuah smartphone yang semakin tipis. Tantangan yang dihadapi di antaranya daya tahan, semakin tipis, semakin rawan bengkok atau retak. Produsen harus mengembangkan bahan baru, seperti titanium alloy ringan atau serat karbon fleksibel.
Kemudian kapasitas baterai. Walau teknologi baterai semakin canggih, kompromi pada kapasitas tetap ada. Baterai membutuhkan ruang yang masih cukup dominan.
Tantangan terakhir adalah kamera dan pendinginan.Sensor kamera besar dan sistem pendingin sulit ditanamkan tanpa ruang. Solusinya adalah kamera pop-up mini dan pendingin vapor-chamber ultra-kompak.
Selain Samsung dengan 5,8 mm-nya. Apple sebenarnya sedang menyiapkan pula, yaitu desain super slim dengan ketebalan hanya 5,1 mm. Tanpa port, tanpa tombol fisik, dan menggunakan teknologi MagSafe Ultra, iPhone 17 Air dianggap sebagai kombinasi antara seni dan teknologi.
Xiaomi juga punya Blade Ultra, ponsel dengan profil 4,9 mm namun masih memiliki kamera utama 1 inci. Mereka menggunakan teknologi pendingin cair mikro dan baterai berbahan graphene yang sangat padat energi.
Nothing hadir dengan pendekatan transparan dan tipis. Desain retro-futuristik dengan ketebalan 5,5 mm membuatnya jadi favorit di kalangan kreatif.(*)
BACA JUGA: Samsung Galaxy S25 Ultra Paling Banyak Dicari



