WWW.SINYALMAGZ.COM – Jepang, sebagai salah satu negara terdepan dalam inovasi teknologi, telah menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat posisinya dalam industri kecerdasan buatan (AI). Dengan tantangan seperti penurunan populasi dan penuaan masyarakat, Jepang melihat AI sebagai solusi strategis untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing global.
Jepang telah membangun fondasi yang kuat untuk pengembangan AI melalui investasi strategis dalam infrastruktur teknologi. Pemerintah Jepang, melalui Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) serta Organisasi Pengembangan Teknologi Industri dan Energi Baru (NEDO), mendukung proyek seperti GENIAC, yang menyediakan sumber daya komputasi untuk pengembangan model AI generatif. Hingga Juli 2025, GENIAC telah mendukung 24 proyek pengembangan model dasar AI, menunjukkan komitmen untuk mempercepat inovasi.
Selain itu, perusahaan besar seperti Toshiba, yang memiliki lebih dari 5.000 paten terkait AI, serta kolaborasi dengan startup seperti Sakana AI, memperkuat ekosistem teknologi Jepang. Meskipun demikian, tantangan seperti kekurangan tenaga kerja terampil dan kebutuhan akan data berkualitas tinggi masih menjadi hambatan yang perlu diatasi.
Pemerintah Jepang sendiri telah mengambil langkah proaktif untuk menciptakan kerangka regulasi yang mendukung penggunaan AI secara aman dan etis. Pada Juli 2024, Kementerian Pertahanan Jepang mengumumkan prinsip dasar penggunaan AI di tujuh bidang prioritas, termasuk deteksi target, analisis intelijen, dan efisiensi logistik militer. Kebijakan ini menekankan pentingnya keterlibatan manusia dalam pengambilan keputusan berbasis AI untuk mencegah risiko seperti disinformasi.
Selain itu, pada Februari 2025, Perdana Menteri Shigeru Ishiba mengumumkan rencana untuk membuat undang-undang guna meminimalkan risiko AI, termasuk pelanggaran hak cipta oleh AI generatif. Inisiatif ini didukung oleh pembentukan dewan ahli AI untuk membahas isu etika dan hukum. Jepang juga memimpin Proses AI Hiroshima, sebuah inisiatif G7 untuk mendorong regulasi global yang seimbang.
Jepang aktif menjalin kerja sama internasional untuk memperkuat posisinya di panggung global. Selain Proses AI Hiroshima, Jepang berkolaborasi dengan Indonesia dalam pengembangan AI, big data, dan teknologi 5G, dengan fokus pada pertukaran informasi dan pelatihan teknis. Kolaborasi ini juga melibatkan sektor swasta, seperti perusahaan Jepang yang berinvestasi dalam strategi penanggulangan bencana berbasis AI di Indonesia.
AI telah diterapkan secara luas di Jepang, mulai dari sektor publik hingga swasta, beberapa di antaranya adalah;
Pertahanan: AI digunakan untuk meningkatkan efisiensi militer, seperti pelacakan target dan pengendalian drone.
Kesehatan: Aplikasi AI dalam pengobatan membantu diagnosis dan perawatan yang lebih akurat.
Ritel dan Manufaktur: Perusahaan seperti Amazon Jepang memanfaatkan AI untuk otomatisasi ritel, sementara manufaktur menggunakan AI untuk inspeksi produk dan efisiensi produksi.
Pelayanan Publik: Sistem AI yang dikembangkan oleh University of Electro-Communications dan SoftBank membantu penyandang tuli dengan menerjemahkan bahasa isyarat menjadi teks.
Rumah Tangga: Startup seperti Preferred Robotics telah meluncurkan robot rumah tangga seperti Kachaka, yang dapat menjalankan perintah verbal untuk tugas sehari-hari.
Apa selanjutnya?
Jepang memiliki visi untuk menjadi pemimpin global dalam pengembangan AI. Pemerintah menargetkan peningkatan PDB melalui integrasi AI di berbagai industri, dengan tujuan menciptakan pasar senilai 30 triliun yen untuk teknologi baru pada 2020, sebuah ambisi yang terus dikejar hingga saat ini. Strategi ini mencakup dukungan untuk startup AI melalui investasi dan program seperti GENIAC, serta promosi penelitian dalam pembelajaran mendalam (deep learning).
Jepang juga berkomitmen untuk mengembangkan AI yang etis dan berkelanjutan. Rencana masa depan mencakup penguatan regulasi untuk mencegah penyalahgunaan AI, seperti disinformasi dan pelanggaran hak cipta, serta memastikan bahwa AI digunakan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan, seperti dalam perencanaan kota pintar dan infrastruktur hijau.
Untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil, Jepang berencana menarik talenta global dan meningkatkan pendidikan AI di dalam negeri. Inisiatif ini mencakup pelatihan dan kerja sama pemerintah-swasta untuk membangun ekosistem AI yang kompetitif.
Sektor swasta, termasuk startup seperti Sakana AI yang mengembangkan “AI Scientist” untuk penelitian ilmiah otomatis, akan terus memainkan peran kunci. Perusahaan besar seperti Rakuten juga didukung untuk mengembangkan AI generatif generasi berikutnya, menunjukkan sinergi antara kebijakan pemerintah dan inovasi swasta.(*)
