WWW.SINYALMAGZ.COM – Indonesia sedang memasuki fase baru dalam perkembangan ekonomi digital. Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi hanya menjadi teknologi yang digunakan oleh perusahaan teknologi, programmer, peneliti atau kalangan profesional. AI mulai menjadi bagian dari kehidupan konsumen sehari-hari.
Perkembangan ini ditopang oleh besarnya basis pengguna internet Indonesia. Pada 2026, jumlah pengguna internet Indonesia mencapai sekitar 235,26 juta orang atau 81,72 persen dari populasi. Dengan basis pengguna digital sebesar itu, Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial bagi berbagai layanan AI, terutama yang didistribusikan melalui smartphone, mesin pencari, media sosial, aplikasi percakapan, dan layanan cloud.
Besarnya jumlah pengguna internet tersebut juga membantu menjelaskan mengapa perkembangan AI di Indonesia berlangsung sangat cepat. Konsumen tidak harus membeli komputer khusus atau memahami teknologi AI untuk menggunakannya. Mereka dapat berinteraksi dengan AI melalui aplikasi yang sudah digunakan setiap hari. ChatGPT, Gemini, Meta AI, dan berbagai layanan lainnya semakin mudah ditemukan di perangkat dan platform yang sudah akrab bagi masyarakat.
Dengan demikian, AI di Indonesia berkembang bukan hanya sebagai produk teknologi tersendiri, tetapi sebagai lapisan baru yang masuk ke dalam aktivitas digital sehari-hari.
ChatGPT Masih Besar, tetapi Persaingan Semakin Ketat
Dalam pasar asisten AI, ChatGPT masih memiliki posisi yang sangat kuat di Indonesia. Survei Jakpat pada April 2025 terhadap 1.423 responden, dengan 1.020 di antaranya merupakan pengguna AI, menunjukkan bahwa 74 persen pengguna AI yang disurvei menggunakan ChatGPT.
Gemini berada di posisi berikutnya dengan 51 persen, disusul Meta AI sebesar 29 persen, DeepSeek 13 persen, dan Grok 9 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa ChatGPT memiliki tingkat pengenalan dan penggunaan yang tinggi di kalangan konsumen Indonesia.
Namun, data yang lebih baru menunjukkan bahwa persaingan sedang berubah. Berdasarkan pengukuran Sensor Tower pada Mei 2026, ChatGPT memiliki true audience sebesar 45,7 persen di Indonesia, sementara Gemini mencapai 31,2 persen dan Claude 7,8 persen. Dalam periode Mei 2025 hingga Mei 2026, true audience ChatGPT turun dari 55,6 persen menjadi 45,7 persen, sedangkan Gemini meningkat dari 20,9 persen menjadi 31,2 persen dan Claude dari 2,3 persen menjadi 7,8 persen.
Data ini menunjukkan bahwa meskipun ChatGPT masih memiliki basis pengguna terbesar dalam pengukuran tersebut, konsumen Indonesia semakin terbiasa menggunakan lebih dari satu pilihan AI.
Perbedaan angka antara berbagai survei perlu dibaca secara hati-hati. Angka penggunaan Meta AI, misalnya, dapat terlihat jauh lebih tinggi dalam survei konsumen dibandingkan pengukuran aplikasi AI standalone. Salah satu penyebabnya adalah distribusi Meta AI melalui ekosistem WhatsApp, Instagram, Facebook, dan Messenger.
Karena itu, orang yang pernah berinteraksi dengan Meta AI melalui platform sosial belum tentu menganggap dirinya sedang menggunakan sebuah “aplikasi AI”. Perbedaan definisi dan metodologi membuat angka dari berbagai sumber tidak dapat begitu saja dibandingkan sebagai market share yang sama.
AI Indonesia Sangat Mobile dan Multimodal
Salah satu karakter paling penting dari konsumsi AI di Indonesia adalah sifatnya yang mobile-first. Data Google untuk periode Januari hingga Maret 2026 menunjukkan bahwa 82 persen prompt Gemini di Indonesia berasal dari perangkat mobile. Sekitar separuh interaksi juga menggunakan input multimodal, seperti gambar dan teks atau suara.
Bahkan, 84 persen prompt menggunakan bahasa lokal. Pada periode yang sama, pengguna Indonesia menghasilkan hampir sembilan juta gambar AI setiap hari melalui Gemini. Sekitar 32 persen interaksi Gemini di Indonesia berkaitan dengan aktivitas kreatif, lebih tinggi dibandingkan angka 25 persen untuk Asia Tenggara.
Pola tersebut menunjukkan bahwa penggunaan AI Indonesia tidak terbatas pada mengetik pertanyaan dalam chatbot. Konsumen dapat memotret sesuatu, mengunggah gambar, meminta AI menjelaskannya, mengubah gambar, menerjemahkan teks, mencari ide, membuat caption, atau menghasilkan gambar baru. AI dengan demikian mulai berfungsi sebagai fitur yang melekat pada aktivitas smartphone.
Polanya dapat digambarkan sebagai sebuah rangkaian: foto, bertanya kepada AI, mengedit, membuat konten, menerjemahkan, mencari informasi, belajar, kemudian kembali ke media sosial atau aplikasi komunikasi. AI semakin menjadi bagian dari alur aktivitas digital, bukan sekadar aplikasi yang dibuka secara khusus ketika seseorang ingin “menggunakan AI”.
Dari Mengerjakan Tugas hingga Mencari Teman Bicara
Pendidikan masih menjadi salah satu pintu masuk utama AI bagi masyarakat Indonesia. Survei Snapcart terhadap 3.611 responden pada April 2025 menunjukkan bahwa 43 persen pengguna AI memanfaatkannya untuk tugas sekolah atau kuliah. Sebanyak 26 persen menggunakannya untuk mencari informasi atau melakukan riset data, sementara 14 persen menggunakannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang rumit.
AI juga digunakan untuk hiburan sebesar 9 persen dan sebagai teman bicara atau tempat curhat sebesar 6 persen. Secara keseluruhan, 43 persen responden mengatakan sering menggunakan AI dalam kehidupan sehari-hari, 41 persen menggunakannya tetapi jarang, sedangkan 16 persen belum pernah menggunakannya.
Pola penggunaan tersebut memperlihatkan bahwa AI mempunyai banyak “pekerjaan” dalam kehidupan konsumen. Di bidang pendidikan, AI digunakan untuk menjelaskan materi, membuat rangkuman, mengecek tugas, berlatih menghadapi ujian, dan belajar bahasa. Dalam pekerjaan, AI digunakan untuk menulis email, membuat laporan dan presentasi, melakukan brainstorming, menganalisis data, menerjemahkan dokumen, hingga menyusun proposal. Sementara dalam aktivitas kreatif, AI dimanfaatkan untuk membuat gambar, video, audio, copywriting, caption media sosial, desain, dan ide konten.
Menariknya, penggunaan AI juga mulai memasuki wilayah interaksi sosial dan emosional. Sebagian pengguna menjadikan AI sebagai teman bicara atau tempat mencurahkan masalah. Survei Snapcart mencatat bahwa 6 persen pengguna menggunakan AI untuk kebutuhan tersebut.
Temuan ini tidak berarti AI telah menggantikan tenaga profesional, tetapi menunjukkan bahwa masyarakat mulai memperlakukan chatbot bukan hanya sebagai mesin pencari atau alat produktivitas, melainkan sebagai antarmuka percakapan yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan personal.
Pola Penggunaan Mulai Bergeser
Data APJII memperlihatkan perubahan menarik antara 2025 dan 2026. Di antara masyarakat yang mengakses konten AI, penggunaan untuk hiburan meningkat dari 29,5 persen pada 2025 menjadi 36,5 persen pada 2026. Penggunaan untuk pekerjaan dan produktivitas juga meningkat cukup tajam, dari 12,3 persen menjadi 26,9 persen.
Sebaliknya, penggunaan untuk edukasi dan riset turun dari 43,9 persen menjadi 30,2 persen. Karena survei menggunakan pertanyaan multiple-answer, angka-angka tersebut tidak dimaksudkan untuk dijumlahkan menjadi 100 persen.
Perubahan tersebut memberi gambaran mengenai evolusi pasar AI Indonesia. Pada tahap awal, AI banyak dikenal sebagai alat untuk mencari informasi dan membantu tugas. Ketika teknologi semakin mudah digunakan, penggunaannya berkembang ke hiburan, kreativitas, dan produktivitas. AI mulai bergerak dari “alat belajar” menjadi “alat hidup digital”, yang digunakan dalam berbagai aktivitas tanpa selalu disadari sebagai penggunaan teknologi AI.
Mayoritas Masih Menggunakan AI Gratis
Besarnya penggunaan AI tidak otomatis berarti besarnya jumlah konsumen yang bersedia membayar. Justru salah satu karakter utama pasar Indonesia adalah dominasi layanan gratis. Survei Jakpat menunjukkan bahwa 76 persen pengguna AI masih menggunakan layanan gratis, sedangkan sekitar 24 persen membayar langganan. Dari sisi pengeluaran, 9 persen mengeluarkan kurang dari Rp50 ribu per bulan, 8 persen berada pada rentang Rp50–150 ribu, 3 persen Rp150–300 ribu, 1 persen Rp300–500 ribu, dan 1 persen lebih dari Rp500 ribu.
Dengan demikian, pasar AI konsumen Indonesia belum dapat disebut sebagai pasar yang sangat bergantung pada subscription premium. Pola yang lebih umum adalah mencoba layanan gratis terlebih dahulu, kemudian menggunakannya secara rutin, dan baru membayar ketika membutuhkan kapasitas atau fitur tambahan.
Berdasarkan distribusi pengeluaran tersebut, estimasi kasar menunjukkan pengeluaran sekitar Rp46 ribu per bulan jika seluruh pengguna AI, termasuk pengguna gratis, diperhitungkan. Di antara pengguna yang membayar, estimasinya sekitar Rp190 ribu per bulan. Namun angka tersebut merupakan perhitungan dari rentang pengeluaran, bukan rata-rata resmi nasional, sehingga harus diperlakukan sebagai estimasi.
Perusahaan Menjadi Mesin Monetisasi yang Berbeda
Jika konsumen individu masih sensitif terhadap harga, kondisi perusahaan jauh berbeda. Survei UOB Business Outlook Study 2026 terhadap 272 pemilik bisnis dan eksekutif senior UKM Indonesia menemukan bahwa 74 persen bisnis telah mengadopsi AI dan 90 persen berencana meningkatkan anggaran AI.
Sebanyak 40 persen bahkan berencana meningkatkan anggaran lebih dari 50 persen. Bisnis yang menggunakan AI juga melaporkan peningkatan produktivitas, pertumbuhan pendapatan, dan kepuasan pelanggan.
Penggunaan AI di perusahaan juga semakin bergeser dari sekadar pegawai membuka ChatGPT. AI mulai digunakan sebagai bagian dari perangkat lunak dan proses bisnis, mulai dari pemasaran, segmentasi pelanggan, pembuatan konten, customer service, analisis dokumen, forecasting, otomatisasi workflow, finance, HR, corporate search, pembuatan notulensi rapat, hingga coding.
Tantangan perusahaan bukan lagi sekadar apakah mereka tertarik menggunakan AI, tetapi apakah mereka memiliki data, sistem, talenta, kemampuan internal, dan anggaran yang diperlukan untuk mengintegrasikannya secara efektif.
Adopsi Tinggi Belum Berarti Dampak Ekonomi Tinggi
Tingginya angka adopsi perusahaan juga perlu dibedakan dari keberhasilan ekonomi. Survei CEO PwC 2026 di Indonesia menunjukkan bahwa 22 persen CEO mengatakan AI meningkatkan pendapatan, 28 persen melaporkan penurunan biaya, dan 10 persen memperoleh kedua manfaat tersebut sekaligus. Artinya, adopsi AI dan penciptaan nilai ekonomi belum selalu berjalan pada tingkat yang sama.
Di tingkat pekerja, PwC menemukan bahwa 69 persen pekerja Indonesia pernah menggunakan AI untuk pekerjaan dalam 12 bulan terakhir, sementara 16 persen menggunakannya setiap hari dan 8 persen menggunakan agentic AI setiap hari. Di antara pengguna GenAI harian, sebagian besar melaporkan peningkatan produktivitas.
Namun angka tersebut merupakan persepsi responden dan tidak dengan sendirinya membuktikan hubungan sebab-akibat antara penggunaan AI dan peningkatan produktivitas atau pendapatan.
Indonesia: Pasar AI Mass-Market
Gambaran keseluruhan menunjukkan karakter yang cukup jelas. Indonesia merupakan pasar AI mass-market dengan basis pengguna yang sangat besar, tetapi tingkat monetisasi konsumen individu masih relatif rendah. ChatGPT masih mempunyai jangkauan besar, sementara Gemini tumbuh cepat dan layanan seperti Claude, Meta AI, DeepSeek, Grok, serta platform lainnya ikut membentuk pasar yang semakin kompetitif. Pada saat yang sama, AI semakin menyatu dengan smartphone, media sosial, pencarian informasi, pendidikan, pekerjaan, kreativitas, hiburan, dan komunikasi.
Perbedaan paling menarik terlihat antara konsumen dan perusahaan. Pada konsumen, 72 persen responden dalam survei Jakpat menggunakan AI, tetapi mayoritas masih menggunakan versi gratis. Pada perusahaan, 74 persen bisnis yang disurvei UOB telah mengadopsi AI dan 90 persen berencana meningkatkan anggaran.
Ini menunjukkan dua mesin pertumbuhan yang berbeda: B2C bertumpu pada volume pengguna yang sangat besar, sedangkan B2B bertumpu pada kebutuhan produktivitas dan willingness-to-pay yang lebih tinggi.
Pola konsumsi AI Indonesia pada 2026 dapat diringkas sebagai pergeseran dari AI sebagai aplikasi menjadi AI sebagai lapisan kehidupan digital. Masyarakat tidak lagi selalu datang ke AI dengan kesadaran bahwa mereka sedang menggunakan sebuah teknologi baru. AI hadir ketika seseorang mengerjakan tugas, mencari informasi, membuat gambar, menulis dokumen, bekerja, membuat konten, atau sekadar bertanya melalui smartphone.
Dengan lebih dari 235 juta pengguna internet dan meningkatnya adopsi AI di dunia bisnis, Indonesia sedang bergerak dari fase mencoba AI menuju fase ketika AI menjadi bagian permanen dari cara masyarakat belajar, bekerja, berkomunikasi, dan menciptakan sesuatu.(*)
BACA JUGA: Zapier AI, Mengenal Cara Kerja, Keunggulan, dan Cara Penggunaannya






