Kisah Bocah 5 Tahun Yang Jadi Korban Selamat Tsunami Banten

SINYALMAGZ.com – Tsunami yang menerjang kasawan Pandeglang Banten dan Lampung Selatan pada Sabtu (22/12/2018) pukul 21.27 WIB telah memakan banyak korban jiwa.

Berdasarkan laporan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Puwo Nugroho, jumlah korban hingga pukul 13.00 WIB, Minggu (23/12/2018), tercatat sebanyak 168 orang meninggal dunia, 745 luka, dan 30 orang hilang.

Sementara itu, salah satu korban yang selamat adalah seorang anak kecil bernama Ali yang masih berusia 5 tahun.

Bocah lelaki ini ditemukan sekitar pukul 08.30 WIB, di timbunan puing-puing kayu.

“Pertolongan pada pukul 08.30 WIB. Korban anak yang diselamatkan atas nama Ali, umur 5 tahun.”, ujar Kepala Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi, Mohammad Iqbal.

Ali ditemukan tak jauh dari lokasi Mutiara Resort Pantai Carita.

Berdasarkan sebuah video yang diunggah pada akun @reezaherasbudi, diketahui Ali berada di dalam mobil yang tertimbun reruntuhan.

“Kami ada di Carita, di Hotel Mutiara. Ini ada mobil yang tertimpa pohon, kemudian di bawah ada masyarakat 2 orang sedang kita coba evakuasi.”, tutur seorang polisi bernama Reza.

“Alhamdulillah, Ali umur 5 tahun dapat diselamatkan.”, tulisnya pada unggahan video tersebut.

Reeza menuturkan, Ali sudah terjebak di reruntuhan kayu selama 12 jam.

Saat dievakuasi, Ali dalam kondisi sadar dan menangis. Tubuhnya juga terlihat kotor oleh tanah, dan ia mengalami luka ringan.

Pertolongan terhadap Ali sendiri dipimpin langsung oleh Dansat Brimob Polda Banten Kombes Pol.

Kemudian Ali langsung mendapat pertolongan, dan ditangani oleh Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Banten.

Menurut Sutopo, tsunami di Pandeglang dan Lampung ini terjadi karena kombinasi longsor bawah laut akibat adanya erupsi Gunung Anak Krakatau serta gelombang pasang saat purnama.

“Penyebab tsunami di Pandeglang dan Lampung Selatan adalah kemungkinan kombinasi dari longsor bawah laut akibat pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang saat purnama. BMKG masih meneliti lebih jauh untuk memastikan penyebab tsunami.”, jelas Sutopo.

Bencana ini disebut langka oleh Sutopo, karena erupsi letusan Gunung Anak Krakatau masih terbilang kecil dan tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigakan.

 

Halaman selanjutnya:

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled