WWW.SINYALMAGZ.COM – Siapa “raja” smartphone di Indonesia saat ini? Anggaplah pemilik brand yang “raja” ini menguasai penyediaan smartphone di seluruh titik.
Kalau Anda sebut Oppo sudah pasti salah. Jika Anda jawab Xiaomi sama pula kelirunya.
Dia adalah produk-produk yang berada di bawah bendera holding perusahaan asal Shenchen China. Yakni Transsion. Untuk produk smartphone tercatat tiga brand antara lain Tecno, Infinix dan iTel. Transsion juga pemilik brand gadget macam Oraimo.
Sepak terjang Transsion belakangan boleh disebut agresif. Mereka tahu persis kebutuhan pasar di negara-negara berkembang macam di Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, Asia Selatan dan tentu saja Asia Tenggara.
Apakah masih relevan mengguyur pasar negara berkembang?
Masih. Bukankah perpindahan penggunaan dari smartphone basic ke middle smartphone terus berlangsung. Ketika faktor harga masih menjadi rujukan nomor satu atau kedua dari wishlist calon pembeli. Ketika pula sejumlah brnad-brand kelas dua macam Oppo, Xiaomi, vivo mulai meninggalkan kelompok masyarakat ber-budget terbatas, dan memilih beradu teknologi yang berdampak pada harga jual barang.
Maka masyarakat tak punya pilihan. Sebagai akibatnya membeli Xiaomi, Oppo atau vivo kini cuma angan-angan belaka. Apalagi membeli brand Samsung atau Apple, yang hanya menjadi mimpi selamanya.
Transsion memainkan dua hal, yaitu teknologi dan kebijakan harga. Sehingga tidak semua brand miliknya harus berharga murah. Ada satu-dua yang mengikuti pertarungan teknologi. Tetapi tidak meninggalkan produk smartphone yang tidak membutuhkan komponen high tech, sehingga bisa dibanderol di kisaran Rp 1 jutaan atau kurang.
Di kelas ini sekarang dibanjiri tiga brand tadi. Terdengar asing, tetapi masyarakat berkantung cekak tak punya pilihan kecuali membeli seken yang berisiko. Apa boleh buat, permintaan yang tinggi itu akhirnya membawa supply yang besar pula. Dan, Tenssion tidak mau lalu jual mahal mentang-mentang ada demand.
Kesuksesan penetrasi pasar tersebut diendus oleh IDC (International Data Corporation) sebuah lembaga yang sering jadi rujukan pasar produk berteknologi. Tahun 2023 brand-brand Transsion baru di tahap penetrasi, namun sudah sanggup mengambil 13,1 persen penyediaan smartphone di Indonesia.
Di tahun itu tentu masih kalah oleh Oppo, Samsung maupun Xiaomi. Samsung masih meraja pada 2023.
Tetapi setahun kemudian di 2024, terasa lah hasil penetrasi tersebut. Tiga nama besar di atas dijungkirkan. Sampai kuartal ke-4 tahun 2024 Transsion memimpin dengan 18,3 persen penyediaan smartphone di nusantara. IDC menghitung telah terjadi kenaikan sebesar 61,7 persen dari 2023 ke 2024 alias YoY.
Pasar yang ditinggalkan Xiaomi dan Oppo diambilalih. Samsung yang benar-benar selalu jual mahal (dalam arti sesungguhnya) pun menangis karena drop luar biasa. Banyak pengamat bilang strategi Tecno, itel maupun Infinix memahami kebutuhan pasar negara berkembang adalah kuncinya. Kunci yang telah menjadi jurus ketika Xiaomi hadir beberapa tahun lalu, tetapi lalu ditinggalkan.
Teknologi smartphone boleh maju dengan segala keunikan dan ke-wow-annya. Tetapi pasar tak butuh semua hal demikian. Karena cukup bisa WA dan nonton Tiktok sudah senang.(*)
BACA JUGA: Tecno Camon 40 Dilengkapi Tombol Satu Tap
