Menaksir Kemungkinan Merger XL dan Fren

Kabar tentang rencana merger – penggabungan – dua operator, XL Axiata dan Smartfren Telecom, makin lama makin santer, sumber-sumber makin memberi keyakinan bahwa merger “pasti akan terjadi”, tanda-tandanya sudah ada. Misalnya saja kabar bahwa sudah ada kesepakatan tentang valuasi Smartfren yang di bawah harga Rp 50 per saham.

 

Dalam kaitan ini, dikabarkan, Smartfren akan menyelenggarakan paparan publik (public expose) pada 24 November mendatang. Sementara DSSA, PT Dian Swastika Sentosa Tbk, emiten kelompok Sinar Mas yang juga pelimik saham PT Smartfren Telecom, pertengahan September lalu menjual 30,5 miliar saham dengan harga Rp 79 per saham, senilai Rp 2,4 triliun.

 

Jika valuasi (nilai) Smartfren Rp 50, padahal pernah terjual sebelumnya dengan harga Rp 79, apakah Smartfren berkenan tidak mayoritas dalam mertger jika valuasi  XL Axiata akan mengambil patokan harga saham terakhir sebesar Rp 2.200 (10/11)? Apa yang akan dilakukan Sinar Mas sebagai induk Fren, yang, siapa tahu, ingin mayoritas dalam proses merger keduanya?

 

Namun yang jelas, kecenderungan akan terjadinya merger disuarakan Menteri Kominfo Budi Arie Setiadi, yang menyebut bahwa empat operator seluler di Indonesia masih terlalu banyak. Ia berharap terjadi penggabungan operator lagi sehingga jumlahnya 3 operator, walau tidak menyebut soal merger XL – Smartfren karena dia setuju saja jika, misalnya, Smartfren gabung ke Telkomsel atau operator lainnya.

 

Merger, sejatinya seperti perkawinan yang tidak dapat dipaksakan, harus ada kesukarelaan yang akan kawin. Biarkan mereka sendiri yang “saling taksir”, apakah memang ada kecocokan.

 

Kedua belah manajemen, baik BOD (board of directors – dewan direksi) Smartfren maupun XL Axiata, selalu menampik untuk memberi kejelasan. Seperti ujar Presdir dan CEO XL Axiata, Dian Siswarini, Presdir Smartfren Merza Fahys juga berkata, merger bukanlah urusan manajemen, melainkan pemegang saham. Dengan demikian, merger keduanya menjadi urusan Kelompok Axiata Malaysia dan Kelompok Sinar Mas.

 

Harus top up

 

Sebelumnya, merger terjadi Indosat Ooredoo dengan Hutchison Tri (3) pada akhir 2021 menjadi Indosat Ooredoo Hutchison (IOH). Merger ini membuat aksi korporasi ini disebut paling sukses, karena beberapa operator dunia pernah melakukan tetapi gagal.

 

Dalam Kongres GSM Dunia tahun 2022, manajemen IOH diminta membuka rahasia keberhasilannya yang diharapkan akan jadi bagi rencana merger berbagai operator. Juga bagi XL Axiata dan Smartfren, yang masih berkutat pada tahap saling taksir, belum ada sama sekali kesepakatan atau lamaran.

 

Dalam merger Indosat – Hutchison, ada kegiatan top up sebesar 6 miliar dollar AS (Rp 90 triliun) yang disebutkan Menkominfo (waktu itu), Johnny  G Plate sebagai transaksi terbesar di dunia seluler pada 2021. Merger terbukti meningkatkan pendapatan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) pada semester pertama 2022 menjadi Rp 46,8 triliun dari target sekitar Rp 41 triliun, dengan laba Rp 2,66 triliun.

 

Komposisi pemegang saham IOH pada 5 Januari 2022, Ooredoo Asia 65,64%, Perusahaan Pengelola Aset (PPA) 9,63%, PT Tiga Telekomunikasi Indonesia (TTI) 10,77%, Dani Buldansyah 0,003% dan masyarakat sisanya, 13,95%. Susunan pemegang saham berubah dari hari sebelumnya, 4 Januari 2022, pemegang sahamnya Ooredoo Asia 43,81%, PPA 9,63%, TTI 10,77%, Dan Buldansyah 0,003% dan Hutchison Asia 21,65%, sisanya masyarakat.

 

Mengambl contoh IOH, siapa yang akan menjadi pemegang saham terbesar, siapa yang harus top up agar pemilikan saham setidaknya berimbang. Tidak mudah diputuskan baik oleh Axiata maupun Kelompok Sinar Mas.

 

Sejak sebelum ada IOH, manajemen XL Axiata mewakili pemiliknya selalu mengatakan, mereka mau merger kalau bertindak sebagai mayoritas. XL boleh bicara begitu, karena dari penampilannya mereka lebih besar, lebih luas jangkauan dan pendapatan serta labanya lebih besar dibanding Smartfren.

 

Tetapi Si Kecil Cabe Rawit Smartfren juga berniat sama, bahkan kalau harus top up. Induk operator itu, Sinar Mas,  punya ratusan jenis usaha di berbagai bidang yang bisa mengucurkan dana berapa pun.

 

Soal gengsi

 

Kelompok Axiata akan keukeuh sebagai pemegang saham pengendali, seperti saat ini 65% di XL Axiata. Lalu kira-kira Sinar Mas harus memasukkan modal berapa untuk mengimbangi Axiata, sementara di IOH, baik Ooredoo maupun Hutchison sama-sama top up.

 

Pelanggan XL Axiata 58 juta, Smartfren 38 juta, XL punya BTS 170.000 lebih, Smartfren 43.000, capex (capital expenditure – biaya modal) XL tahun ini Rp 8 triliun, Smarfren Rp 3 triliun. Pendapatan XL  pada semester 1 tahun ini mencapai Rp 15,76 triliun laba Rp 650 miliar, Smartfren Rp 2,79 triliun, rugi Rp 163,23 miliar.

 

Tampaknya terlalu besar bagi Smartfren untuk menombok agar bisa mengimbangi XL dan menjadi mayoritas, walau kekayaan Kelompok Sinar Mas boleh dikata tidak bisa dihitung saking banyaknya. Dan, ini tampaknya menjadi lebih ke soal gengsi.

 

Bagaimanapun. posisi kedua operator itu masih jauh di bawah IOH apalagi Telkomsel, baik dalam kepemilikan pelanggan, spektrum frekuensi dan pendapatan.

 

Jumlah spektrum frekuensi keduanya jika digabung – tanpa pemerintah tega ambil sebagiannya seperti akusisi XL Axiata ke Axis atau merger IOH – selebar 56 MHz di FDD (frequency division duplexing) X 2 = 112 MHz dan 40 MHz di TDD (time division duplexing). Bandingkan dengan IOH yang punya 135 MHz FDD saja, Telkomsel 145 MHz FDD dan 50 MHz TDD.

 

Sebenarnya tanggung kalau Menkominfo hanya memaksa XL Axiata dan Smartfren merger. Mengapa tidak keduanya disuruh merger dengan IOH atau Telkomsel, sehingga industri jauh lebih efisien dan kompetitif dengan 2 operator?

 

Merger selain efisien karena belanja modal, operasional, SDM dan sebagainya bisa digabung, juga mengurangi jumlah pelanggan seluler. Saat ini dengan jumlah penduduk sebanyak 287 juta, ada 346,7 juta kartu SIM aktif, atau seorang rata-rata punya 1,2 kartu SIM yang berbeda.

 

Merger akhirnya memaksa pelanggan hanya punya satu kartu SIM dari satu operator, kecuali pelanggan operator yang membeda-bedakan segmen pelanggan dengan tarif berbeda. Telkomsel pernah melakukan pembersihan, menghapuskan kartu yang tidak aktif dan jumlah pelanggan turun dari 170 juta menjadi 153 juta, tetapi efeknya ARPU (average revenue per user – pendapatan rata-rata dari per pelanggan) naik. ***

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled