Semangat operator seluler mestinya langsung meluap begitu mereka mendapat spektrum frekuensi 5G yang sudah lama mereka tunggu, yang jumlah seluruhnya selesbar 260 MHz. Namun beda dengan munculnya layanan 4G, yang begitu mendapat limpasan spektrum dari layanan 3G dan tambahan spektrum frekuensi langsung digelar di lapangan, operator 5G tidak bisa demikian.
Yang pasti layanan 5G bukan sambungan layanan 4G, apalagi dari 3G yang sudah dihapus. Kendala muncul dari layanan 2G yang jumlahnya sekitar 10% (29 juta) dari seluruh nomor yang aktif, sebanyak 297 juta milik 290,1 juta penduduk Indonesia.
Pemakai 2G sepertinya dikasihani karena ponselnya paling murah, Rp 200 ribuan, feature phone yang penggunanya kalangan bawah, sebagian tinggal di daerah 3T. Hanya untuk kebutuhan menelepon dan berkirim SMS, tak bisa WA apalagi video.
Padahal kalangan sibuk di perkotaan juga masih menggunakan ponsel nopek-an itu sebagai alat penghubung data sederhana. Misalnya mesin EDC (electronic data capture) di gerai dan perbankan, juga teknik pelacakan kendaraan.
Dari sisi teknologi, layanan 2G sangat membebani sistem karena rakus spektrum. Singapura, misalnya, sudah lama menghapus layanan 2G, mengalihkan untuk layanan 5G, kita hinga saat ini masih belum. Baru seusai ketiga operator mendapat sejumlah spektrum 700 MGz dan 2600 MHz, muncul upaya untuk “mengusir” 2G.
Masih cari jalan apakah ada kemudahan, baik secara teknis maupun pendanaan bagi pemilik ponsel 2G untuk migrasi ke layanan 4G atau sekaligus ke 5G, tanpa menimbulkan masalah finansial masyarakat penggunanya. Tetapi masalah tidak akan berhenti dari sekadar ponsel baru, sebab tarif layanan 5G – yang super cepat dan latensi rendah – jauh lebih mahal dibanding layanan 4G.
Tidak murah
Dari lelang Juli lalu, Telkomsel mendapat 100 MHz, terdiri dari 20 (2X10) MHz di spektrum rendah (low band) 700 MHz dan selebar 80 MHz di spektrum tengah (mid band) 2600 MHz. Jumlah lebar seluruh spektrum frekuensinya menjadi 265 MHz.
Indosat memenangkan 20 MHz (2X10) di spektrum 700 MHz dan 60 MHz di spektrum 2600 MHz, sehingga mereka memiliki lebar frekuensi keseluruhan 135 Mhz. Sementara XL Smart memenangkan 30 (2×15) MHz di spektrum 700 MHz serta 50 MHz di 2600 MHz, jumlah seluruhnya selebar 137 MHz.
Baik low band 700 MHz maupun mid band 2600 MHz dikenal sebagai spektrum emas untuk layanan 5G. Dan kasarnya, hanya dengan satu klik, semua operator bisa langsung memberi layanan 5G.
Namun penggabungan low band dan mid band perlu biaya modal (capex – capital expenditure) yang tidak murah dan operator harus menghitung teliti perbandingan biaya dan hasil dan keuntungan, jika semua frekuensi digelar sekaligus. Apalagi dari 297 juta nomor aktif, ponsel 5G hanya 30%, atau sekitar 100 juta.
Sesuai sifatnya, makin tinggi frekuensi radius cakupan makin sempit, di kawasan bisnis yang padat trafik seluler, jarak antar-BTS (base transceiver station – radio pemancar/penerima) radius tak sampai 100 meteran. Kelemahan mid band, tidak bisa menembus tembok dan kaca, pepohonan lebat, atau menembus bukit.
Di ruang terbuka, jangkauannya bisa sampai 5 kilometer bahkan 7 kilometer, tetapi makin jauh sinyalnya makin lemah, keberadaan bar di ponsel makin sedikit.
Keunggulan low band beda, bisa menembus tembok, kaca, hutan, jangkauannya pun bisa sampai radius 16 kilometer, tergantung tinggi menara tempat radio BTS-nya menumpang, yang rata-rata 40 meter. Keduanya jika digabung bisa memperkuat layanan 5G, yang ketika sudah menjauhi jangkauan mid band, ponsel masih tetap mendapat layanan operator 5G lewat pancaran sinyal low band.
Pelangan “ngambek”
Dari ketiganya, baru XL Smart yang sudah mulai dapat cuan dari G dengan BTS “hanya” 15.000 menjangkau lebih dari 53 sejak Desember 2025 dan jadi 101 kota di akhir tahun. Produk yang disebut XL Ultra 5G+ diklaim mencakup/menyelimuti (blanket coverage) seluruh bagian kota dengan satu spektrum, dedicated, seluruhnya selebar 40 MHz di 2300 MHz digelar untuk 5G.
Mustahil kalau hanya menggunakan satu mid band di 2300 MHz yang jangkauannya rendah. Mereka juga menggabungkan spektrum rendah 900 MHz untuk meluaskan jangkauan, spektrum yang sudah dilucuti, diganti pita selebar 30 MHz di frekuensi 700 MHz. Menurut kalangan XL Smart, teknik penggabungan mid dan low band mampu menyelimuti seluruh kota Jakarta seluas 664 kilometer persegi hanya dengan 1.000 BTS.
Bagaimanapun, operator harus cermat memilih kawasan-kawasan tertentu untuk “menanam” BTS mid band sesuai kebutuhan, menimbang kepadatan trafik. Karena teknologi yang cukup mahal ini menuntut biaya tinggi dalam penggelaran dan operasionalnya, yang akhirnya ditanggung pelanggan. Pelanggan akan merasa kuota cepat habis, walau diakui, striming lebih cepat, jeda (latensi) juga lebih singkat.
Operator bisa menghibur pelanggan dengan menawarkan berbagai paket untuk memenuhi selera pelanggan yang berbeda, agar pelanggan tetap setia. Sebab selain akibat pembersihan nomor kartu SIM yang tidak aktif, penurunan jumlah pelanggan juga terjadi karena mereka kecewa.
Laporan keuangan XL Smart paruh pertama 2026 menyebutkan pendapatan mereka naik 26% dibanding semester pertama 2025 menjadi Rp 24,03 triliun, laba juga melonjak 294% menjadi Rp 2,73 triliun, tetapi jumlah pelanggan mereka turun dari 73 juta pada akhir 2025, menjadi 69,4 juta. Tetapi ARPU (average revenue per user – pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) naik dari Rp 38.200 menjadi Rp 47.100, tertinggi di industri.
ARPU Telkomsel Rp 45.600 dengan pelanggan 153,5 juta, pendapatannya Rp 55,7 juta, labanya Rp 10, 4 triliun. ARPU Indosat Rp 46.000 dengan pelanggan 93 juta, turun dari 95,4 juta, pendapatannya Rp 30,65 triliun, naik 13,1% dari semester 1/2025. Labanya Rp 3,25 triliun, naik 49,2% dibanding semester pertama 2025.
Belum diketahui apakah di semester kedua tahun 2026 ini persaingan di industri seluler mulai ketat, mampu menaikkan pendapatan, laba dan ARPU dari berkah frekuensi 5G.
Juga, bagaimana mengembalikan sejumlah pelanggan yang ngambek sehingga memilih ciao. ***
