WWW.SINYALMAGZ.COM – Data center AI adalah fasilitas teknologi tinggi yang mendukung kebutuhan komputasi masif untuk kecerdasan buatan, seperti model bahasa besar, pembelajaran mesin, dan analisis data. Namun, operasional data center ini membutuhkan sumber daya yang signifikan, terutama listrik dan air.
PENGGUNAAN LISTRIK
Data center AI mengonsumsi listrik dalam jumlah besar untuk menjalankan server, sistem pendingin, dan infrastruktur pendukung. Berikut adalah aspek utama penggunaan listrik:
Kebutuhan Komputasi: Model AI, seperti jaringan saraf tiruan, memerlukan daya komputasi tinggi yang disediakan oleh GPU atau TPU. Komponen ini sangat haus daya, terutama saat melatih model AI skala besar.
Sistem Pendingin: Untuk mencegah overheating, data center menggunakan sistem pendingin seperti AC atau liquid cooling, yang juga mengonsumsi listrik signifikan.
Infrastruktur Pendukung: Jaringan, storage, dan sistem manajemen data center turut menambah konsumsi listrik.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA), data center secara global menyumbang sekitar 1-2% dari total konsumsi listrik dunia pada 2023, dengan data center AI memiliki kontribusi yang semakin meningkat karena intensitas komputasinya.
Untuk mengurangi dampak lingkungan, banyak perusahaan beralih ke energi terbarukan, seperti tenaga surya atau angin, serta mengoptimalkan efisiensi energi melalui desain server yang lebih hemat daya dan algoritma AI yang lebih efisien.
PENGGUNAAN AIR
Air memainkan peran kunci dalam operasional data center, terutama untuk sistem pendingin. Berikut adalah penggunaan utama air:
Pendingin Evaporatif: Banyak data center menggunakan menara pendingin (cooling tower) yang menguapkan air untuk membuang panas dari server. Proses ini membutuhkan air dalam jumlah besar, terutama di wilayah dengan iklim panas.
Sistem Liquid Cooling: Beberapa data center modern menggunakan cairan khusus untuk mendinginkan server secara langsung, tetapi air tetap diperlukan untuk proses pendukung.
Kelembapan Udara: Data center sering menggunakan sistem humidifikasi untuk menjaga kelembapan optimal, yang juga memerlukan air.
Studi dari University of California, Riverside, memperkirakan bahwa data center besar dapat mengonsumsi jutaan liter air per hari, setara dengan kebutuhan kota kecil. Di wilayah dengan sumber air terbatas, ini menjadi tantangan besar.
Untuk mengatasinya, beberapa data center beralih ke teknologi pendingin tanpa air, seperti free cooling (menggunakan udara luar), atau mendaur ulang air limbah untuk keperluan pendingin.
TANTANGAN
Karena konsumsi energi tinggi, sebagai akibatnya pelatihan model AI skala besar dapat menghasilkan emisi karbon yang signifikan jika menggunakan sumber energi berbasis fosil.
Jika didirikan di wilayah dengan keterbatasan air, maka penggunaan air untuk pendingin dapat memicu konflik dengan kebutuhan masyarakat lokal. Di sisi lain konsumsi listrik dan air yang tinggi meningkatkan biaya operasional, yang dapat memengaruhi keberlanjutan bisnis.
SOLUSI
Menghadapi situasi yang akan terjadi di balik “jantung” AI mestinya pemilik perusahaan AI sudah memperhatikan beberapa solusi, di antaranya;
Energi Terbarukan: Mengintegrasikan panel surya, turbin angin, atau pembelian kredit karbon untuk mengurangi jejak karbon.
Efisiensi AI: Mengembangkan algoritma yang membutuhkan lebih sedikit daya komputasi tanpa mengorbankan kinerja.
Pendingin Inovatif: Mengadopsi teknologi seperti immersion cooling atau memanfaatkan udara luar untuk mengurangi ketergantungan pada air.
Lokasi Strategis: Memilih lokasi data center di wilayah dengan akses ke energi terbarukan dan sumber air yang melimpah.(*)
BACA JUGA: Meta Siap Habiskan Ratusan Miliar untuk Data Center AI
