WWW.SINYALMAGZ.COM – Satu dekade lalu, Advanced Micro Devices Inc. (AMD) berada di ambang jurang kebangkrutan dengan harga saham yang terpuruk di kisaran 2 dolar per lembar akibat kalah bersaing dari Intel dan Nvidia.
Namun, kehadiran Dr. Lisa T. Su sebagai CEO pada 2014 menjadi titik balik besar. Menerapkan keahliannya sebagai doktor teknik elektro lulusan MIT, Su mengambil keputusan drastis dengan memangkas lini produk yang tidak efisien, memfokuskan riset pada arsitektur prosesor berkinerja tinggi, dan menjalin kemitraan manufaktur erat dengan TSMC.
Langkah ini melahirkan arsitektur Zen melalui lini Ryzen dan EPYC yang sukses merebut pangsa pasar Intel sekaligus melontarkan nilai saham AMD hingga ratusan kali lipat.
Keberhasilan transformasi tersebut tecermin dari kinerja keuangan AMD yang tumbuh pesat hingga mencatatkan rekor pendapatan tahunan sebesar 34,6 miliar dolar. Segmen pusat data yang mencakup chip server EPYC dan akselerator AI kini resmi menggeser bisnis chip PC serta konsol gim sebagai penyumbang pendapatan terbesar perusahaan.
Untuk menantang dominasi Nvidia di panggung AI, AMD meluncurkan seri akselerator Instinct seperti MI300 dan MI325 yang langsung diadopsi oleh raksasa teknologi sekelas Microsoft, Meta, dan Oracle. Di saat yang sama, AMD memperkuat platform perangkat lunak ROCm serta menggelontorkan miliaran dolar untuk akuisisi strategis seperti Silo AI dan ZT Systems demi mengikis ketertinggalan dari ekosistem CUDA milik Nvidia.
Di tengah persaingan ketat tersebut, kelancaran rantai pasokan komponen menjadi faktor paling krusial. Lisa Su Rabu (7/10/2026) menggelar pertemuan tertutup di Seoul dengan Wakil Ketua Samsung Electronics Co., Jun Young-hyun, yang memimpin divisi semikonduktor raksasa teknologi tersebut. Lawatan ini menjadi kunjungan kedua Lisa Su ke Korea Selatan dalam tujuh bulan terakhir, yang menandaskan betapa pentingnya posisi negara tersebut sebagai produsen utama High-Bandwidth Memory (HBM) sekaligus konsumen perangkat keras AI.
Pertemuan ini berlangsung di tengah badai krisis kelangkaan memori global yang melonjakkan biaya operasional para pengelola pusat data, sementara Korea Selatan sendiri tengah menggalang investasi sebesar $880 miliar untuk membangun infrastruktur digital masa depan.
Melanjutkan kesepakatan pasokan HBM generasi terbaru yang telah ditandatangani AMD dan Samsung pada Maret lalu, diplomasi tingkat tinggi ini bertujuan memastikan pasokan komponen vital tersebut berjalan mulus tanpa hambatan produksi.
Samsung bersama SK Hynix memegang peran kunci sebagai penyuplai utama HBM yang dibutuhkan oleh hampir seluruh akselerator AI canggih di dunia. Bagi Lisa Su, langkah mengamankan pasokan HBM dari Samsung bukan sekadar urusan logistik harian, melainkan strategi catur utama untuk memastikan seluruh pesanan chip AI AMD dapat dipenuhi tepat waktu demi memimpin revolusi komputasi global.(*)
BACA JUGA: Gandeng Nvidia dan KKR, Samsung Investasi Rp18 Triliun di Infrastruktur AI
