Telkom Raih Pendapatan Rp 73 Trilliun

Telkom, sebagai induk PT Telkomsel, pada enam bulan pertama tahun ini, semester 1, meraih pendapatan jumbo sebesar Rp 73 triliun dengan laba bersih Rp 11,1 triliun. Pendapatan terbesar datang dari layanan mobile (seluler) dan fix broadband yang porsinya sebesar 90,6% dari total pendapatannya, atau sebesar Rp 53,8 triliun.

Pelanggan seluler mereka menurun dari 159,8 juta menjadi 158,4 triliun, meski didukung sebanyak 280.434 BTS, sebanyak 229.214 merupakan BTS generasi keempat (4G) dan 2.537 BTS 5G, selain 54.447 kilometer kabel serat optik (FO – fibre optic). Pelanggan fix broadband mereka, IndiHome, mencapai 11,3 juta dengan ARPU (average revenue per user –pendapatan rata-rata dari tiap pelanggan) sebesar Rp 288.000, sementara ARPU seluler Rp 43.000.

Kelompok Telkom berpotensi meraih penghasilan hingga mendekati Rp 160 triliun di akhir tahun ini. Salah satu sumber pemasukan selain Telkomsel yang menyetor  sekitar 74% pendapatan dan laba Telkom, adalah anak perusahaan Mitratel (PT Dayamitra Telekomunikasi).

Entitas ini secara perusahaan sudah terpisah karena menjalani privatisasi, mulai menyetor pendapatan dan laba yang lumayan, yang juga mendapat keuntungan dari proses integrasi BTS milik Indosat dan XL Smart. Di enam bulan pertama tahun ini, Mitratel membukukan pendapatan sebesar Rp 4,59 triliun, naik 3,3% dibanding periode sama tahun lalu, dengan laba Rp 1,09 triliun, naik 2,9% saat sama secara tahunan (YoY).

Operator kedua, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat) meraih pendapatan sepanjang semester 1 tahun 2025 sebesar Rp 27,11 triliun, turun 3,1% dibanding periode sama tahun 2024 yang sebesar Rp 27,97 triliun. Mereka meraih laba Rp 2,33 triliun, turun juga sebesar 14,6% yang sebesar Rp 2,73 triliun saat sama, namun berpotensi mendapat penghasilan hingga Rp 60 triliun dan laba sekitar Rp 5 triliun pada akhir tahun.

Dibanding “anak bawang” merger, XL Smart, Indosat mengalami pertumbuhan sangat bagus sepanjang operasi mereka sebagai perusahaan merger sejak awal 2022. Mereka sempat mengelola pelanggan sebanyak 100 juta lebih hingga tahun lalu, turun menjadi 95,4 juta pelanggan produktif. Jumlah ini bersaing dengan jumlah pelanggan XL Smart yang sebanyak 94,5 juta.

Pemasukan Indosat ditopang pendapatan selular sebesar Rp 22,7 triliun, pendapatan MIDI Rp3,96 triliun, dan telekomunikasi tetap (telepon kabel) sebesar Rp 398 miliar. Pendapatan selular menurun 3,6% dibanding semester I/2024 karena ada penurunan pendapatan data, telepon dan SMS yang diberatkan oleh kenaikan jasa nilai tambah dan jasa interkoneksi.

Pada enam bulan pertama, jumlah beban Indosat Rp 21,9 triliun, turun 1,3% dibanding semester I/2024 yang Rp 22,2 triliun. Sementara aset mereka saat sama naik menjadi Rp117,5 tiriliun dari Rp 114,3 triliun.  Total ekuitas Indosat tercatat turun menjadi Rp 36,2 triliun sampai 30 Juni 2025, dari Rp 36,6 triliun pada 31 Desember 2024.

Smart Bravo

Di industri yang diperebutkan tiga operator, XL Smart sebagai perusahaan gabungan (merger) termuda yang lahir pada 16 April 2025, setelah Indosat Ooredoo Hutchison. XL Smart belum “cukup umur” untuk merilis pendapatan semester satu mereka. Namun ada laporan keuangan triwulan 1 tahun ini hanya ada dari XL Axiata (sebelum merger) yang meraih pendapatan Rp 8,6 triliun, labanya Rp 388 miliar.

Meski pendapatan dan laba XL Smart pada awal lebih rendah, mereka tegar karena memiliki sumber-sumber pendapatan baru dari tiga unsur: Smartfren, Axis dan XL Smart Bravo 500. Smartfren terbaru merilis layanan Sarah, layanan pelanggan yang menggunakan kecerdasan buatan (AI – artificial intelligence) yang menampilkan petugas fisik, Sarah, yang melayani semua pertanyaan pelanggan Smartfren.

Sarah juga akan diterapkan untuk melayani pelanggan kalangan Gen Z, yang memanfaatkan MyXL dan AxisNet, yang jumlahnya saat ini mencapai 31 juta.

XL Smart Bravo 500 membantu memenuhi kebutuhan digital 500 pelanggan dari 900 pelanggan bisnis utama mereka. XL Smart bertransaksi dengan kelima ratus perusahaan ini tidak sebagai penjual dan pembeli, melainkan lebih sebagai mitra.

XL Smart juga punya keunggulan dibanding Indosat, karena merger membuat mereka memiliki spektrum frekuensi tinggi, selebar 40 MHz di rentang 2300 MHz, selain 1900 MHz, 800 MHz dan 2100 MHz.  Cakupan layanan spektrum tinggi lebih sempit dibanding spektrum 2100 MHz ke bawah, sehingga untuk satu luasan yang sama, BTS 2300 MHz bisa berjumlah lima-enam kali lipat sehingga kapasitasnya lebih besar dibanding layanan BTS spektrum rendah.

Di tataran operasional operator seluler di Indonesia, hanya Telkomsel (50 MHz) dan XL Smart yang punya spektrum 2300 MHz yang bekerja dengan tekonologi TDD (time division duplexing). Teknologi ini menggunakan lebar frekuensi yang sama untuk unduh dan unggah bergantian. Sementara teknologi yang digunakan frekuensi lain, FDD (frequency division duplexing) menggunakan spektrum frekuensi berbeda untuk unggah dan unduh.

Merger membuat sekitar 20% hingga 30% BTS (base transceiver station – radio penerima dan pengirim sinyal) mereka harus diintegrasikan, dipindahkan ke kawasan yang belum sempat masuk dalam cakupan layanan baik XL Axiata maupun Smartfren. Ditambah kewajiban membangun 8.000 BTS di daerah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar), diperkirakan perluasan ini akan membuat  XL Smart mendapat lebih dari 15 juta pelanggan baru. (hw)

BACA JUGA: Pendapatan IOH dan Telkomsel Naik

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled