vivo Indonesia terlibat aktif pada kegiatan Global Business Summit on Belt and Road Infrastructure Investment for Better Business, Better World, and Sustainable Development Goals di Jakarta. Acara pekan lalu ini diselenggarakan bersama Pemerintah Indonesia, diikuti lebih dari 300 tokoh lintas setor, berbagai organisasi kelas dunia, akademisi, lembaga internasional dan LSM.
Pertemuan menandai momentum penting pemulihan ekonomi global dan aksi iklim inklusif dan berkelanjutan. Mereka merumuskan langkah konkret dalam membangun infrastruktur berkelanjutan di bawah inisiatif Belt and Road (BRI). vivo Indonesia hadir jadi brand ponsel pintar satu-satunya yang berbagi praktik terbaik dan dampak jangka panjang dalam pembangunan sosial dan digital Indonesia.
Dalam sesi pidatonya, Gary Huang, CEO vivo Indonesia mengatakan, nilai sebuah perusahaan bukan hanya soal angka pertumbuhan, tetapi tentang dampak yang diciptakan bagi masyarakat. Ia meyakini, teknologi harus mempermudah, membantu kehidupan sehari-hari. “Lewat langkah-langkah nyata, kami ingin hadir di tengah kebutuhan masyarakat dan memberi manfaat yang nyata,” ujarnya.
Gary membagikan informasi atas program “vivo NexGen Scholar”, pendidikan multi-tahun sejak awal 2025 bersama Hoshizora Foundation dan PENS (Politeknik Elektronika Negeri Surabaya). Program ini telah menjaring puluhan mahasiswa dari berbagai wilayah Indonesia yang dibekali keterampilan digital masa depan di bidang seperti informatika, data science, dan teknik komunikasi.
Program ini mencerminkan komitmen jangka panjang vivo untuk menghadirkan dampak nyata, memberdayakan talenta lokal, dan menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Kolaborasi di bidang lingkungan, kesehatan publik, dan pemberdayaan pemuda, selaras seruan Joint Statement dari UNGC, menjadikan bisnis sebagai penggerak SDGs, mendorong pembangunan infrastruktur yang hijau, inklusif, dan bertanggung jawab.
Sejak masuk pasar Indonesia pada 2014, vivo melayani hampir 50 juta pengguna di seluruh Nusantara dengan dipandu visi jangka panjang selaras SDGs. Dikembangkan juga kerangka keberlanjutan berlandaskan empat pilar utama: Technology for All, Green Co-existence, Value Co-Creation, dan Social Benefit.
Technology for All adalah inovasi Blue Technology dari vivo, seperti BlueVolt Battery dan sistem imaging kelas atas, yang menghadirkan fitur-fitur canggih. Pada smartphone kelas menengah, memungkinkan siapa pun, juga dari barisan paling belakang dalam konser, untuk mengabadikan momen dengan kualitas profesional.
Pada Green Co-existence, diperkenalkan material ramah lingkungan seperti kaca mikrokristalin dan komponen berbasis karbon yang direstrukturisasi, mendorong penggunaan tembaga bebas timbal. Juga memperluas daftar bahan berbahaya yang dikendalikan hingga 52 jenis, menjadikan desain berkelanjutan sebagai kekuatan bisnis.
vivo ikut mengembangkan standar internasional telekomunikasi, aplikasi AI on-device, dan pemrosesan gambar. Mereka berinvestasi dalam produksi lokal, menciptakan ribuan lapangan kerja, dan membina tenaga kerja teknologi terampil.
Dijalankan juga inisiatif Mbinudita Water Connection pada 2022, membangun 11 tandon air, 20 toilet umum, dan 2 kilometer pipa air bersih yang menjangkau 12 desa terpencil di Nusa Tenggara Timur. Hal itu bermanfaat langsung bagi lebih dari 240 perempuan dan anak-anak.
Teknologi bagi vivo bukan hanya soal kemajuan, tetapi tentang menciptakan dampak yang bermakna bagi masyarakat. “Masa depan yang berkelanjutan dibangun lewat kolaborasi, tanggung jawab, dan kebahagiaan yang dibagikan bersama,” kata Gary Huang. (*)
BACA JUGA: Beasiswa NexGen Scholars dari vivo, Hoshizora dan PENS
