Kolaborasi UGM (Universitas Gadjah Mada) dengan Indosat dan Nvidia meluncurkan UGM Indosat Nvidia AI Technology Center di GIK UGM, Kamis (13/8) pekan lalu. Peluncuran pusat teknologi AI ini jadi bagian upaya membangun ekosistem AI nasional sehingga Indonesia tidak hanya pengguna teknologi, tetapi juga mampu ciptakan inovasi dan pengembangan talenta berbasis AI yang dapat menjawab berbagai persoalan di Indonesia.
UGM dipilih, kata Menteri Komunikasi Digtal (Komdigi), Meutya Hafid, lewat penjajakan terhadap sejumlah perguruan tinggi setelah menunjukkan keseriusan, kualitas riset, serta inovasi yang kuat. UGM akhirnya menjadi mitra pendirian AI Technology Center .
Pusat Teknologi AI ini bagian dari inisiatif Indonesia AI Center of Excellence yang dipimpin Komdigi dengan dukungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri dan perusahaan teknologi penting dalam memperkuat kemampuan AI nasional, sekaligus menghasilkan solusi bagi persoalan nyata di Indonesia.
Menteri mendorong penerapan pendekatan sovereign cloud agar pengelolaan pusat data tetap berada dalam yurisdiksi Indonesia dan memenuhi standar keamanan yang diperlukan. Kedaulatan AI tidak berarti Indonesia mengisolasi diri atau harus mengembangkan semua teknologi sepenuhnya sendiri. Kolaborasi dan kedaulatan dapat berjalan beriringan,katanya.
Meutya mendorong penerapan pendekatan sovereign cloud agar pengelolaan pusat data tetap berada dalam yurisdiksi Indonesia dan memenuhi standar keamanan yang diperlukan. Kedaulatan AI tidak berarti Indonesia mengisolasi diri atau harus mengembangkan semua teknologi sepenuhnya sendiri. Kolaborasi dan kedaulatan dapat berjalan beriringan,katanya.
Menurutnya, keberhasilan pusat AI tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan pelatihan, maupun prototipe yang dihasilkan. Indikator utamanya adalah peningkatan kompetensi talenta, pemanfaatan solusi oleh publik dan industri, hingga lahirnya inovasi kekayaan intelektual yang dikembangkan Indonesia.
Sementara Indosat memilih UGM sebagai salah satu mitra karena memiliki komitmen kuat terhadap riset dan inovasi. Komitmen dalam pengembangan pusat AI bukan sekadar dukungan finansial, tetapi juga waktu dan keseriusan seluruh pihak yang terlibat. “Ini soal penelitian, ini soal inovasi, soal waktu bagi semua orang,” kata Vikram Sinha, Direktur Utama dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison.
Pencipta inovasi
Dikatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pencipta inovasi AI. Persoalan Indonesia bukan karena kekurangan talenta, tetapi kekurangan kesempatan mengembangkan kemampuan yang belum merata.
Investasi pada manusia menjadi bagian penting agar Indonesia siap menghadapi perkembangan AI yang dalam pemanfaatannya perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat, termasuk pertanian, pendidikan, dan tenaga kesehatan. “Namun yang terpenting, masyarakat harus merasakan manfaatnya dan kami memproduksi di Indonesia untuk Indonesia dan untuk Indonesia dan untuk dunia,” kata Sinha.
UGM sendiri sejak 2023 berkomitmen mengoptimalkan pemanfaatan AI dalam berbagai bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui pengembangan UGM AI Society sebagai wadah kolaborasi lintas disiplin.
UGM berkomitmen mewujudkan universitas cerdas melalui optimalisasi pemanfaatan AI di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. “Salah satu upaya adalah inisiasi pengembangan UGM AI Society,” kata Rektor UGM, Ova Emilia.
Berbagai riset AI berkembang dan memberikan kontribusi baik di tingkat nasional maupun internasional. “Mencakup pemanfaatan AI dalam penanganan pandemi Covid-19, etika AI, dukungan terhadap diagnosis tuberkulosis, dan teknologi pertanian pintar,” lanjut Ova.
Kolaborasi menciptakan berbagai produk unggulan yang dikembangkan untuk menjawab kebutuhan nyata di masyarakat. Di antaranya aplikasi manajemen bencana, platform AI untuk analisis dan pengambilan keputusan berbasis data. Selain itu, terdapat juga teknologi smart agriculture yang mengintegrasikan Internet of Things (IoT), komputasi awan, dan AI.
Ova berharap, kolaborasi ini tidak berhenti pada pembangunan pusat teknologi, tetapi terus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat bagi Indonesia sekaligus berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan global. “Kami berharap sinergi ini akan terus melahirkan solusi inovatif di bidang AI dan terobosan teknologi yang akan bermanfaat bagi Indonesia, berkontribusi pula pada kemajuan ilmu pengetahuan di kancah global,” ucapnya.
500.000 pengembang
Sementara keberadaan infrastruktur AI atau AI factory penting untuk mendukung pengembangan teknologinya. VP of Solutions Architecture and Engineering Nvidia, Marc Hamilton mengibaratkan AI factory seperti pabrik yang mengolah bahan baku berupa data menjadi model AI yang menghasilkan nilai. “AI Factory konsep yang sangat menarik. Prinsip kerjanya sama seperti reaktor, menerima bahan baku, mengolahnya, dan menghasilkan barang jadi”.
Indonesia, ujar Marc, punya modal talenta yang besar, ada lebih dari 500.000 pengembang perangkat lunak Indonesia yang terdaftar di GitHub. Akan tetapi, pengembangan AI membutuhkan infrastruktur komputasi yang lebih besar. Karenanya, “Akses terhadap AI Factory perlu diperluas agar mahasiswa, universitas, dan perusahaan di Indonesia dapat mengembangkan teknologi AI secara mandiri”.
Nvidia, lanjut Mark, juga menyediakan model terbuka yang dapat digunakan universitas maupun perusahaan untuk mengembangkan model AI sendiri. Hasil pelatihan menggunakan data institusi tetap menjadi milik institusi yang melakukan pelatihan tersebut. “Setiap universitas atau perusahaan di sini yang tidak mampu mengeluarkan dana sebesar satu miliar dolar dapat memulai dengan menggunakan model kami, kemudian mengembangkan model mereka sendiri, dan memiliki hasil yang diperoleh,” katanya.
Dalam pada itu Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Stella Christie, menegaskan pentingnya kedaulatan data dalam pengembangan AI di Indonesia. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak menyerahkan data secara cuma-cuma kepada negara lain untuk meningkatkan kemampuan algoritma mereka. “Kita boleh memperdagangkan data kita. Kita boleh menjual data kita untuk mendapatkan imbalan, tetapi kita tidak boleh sama sekali memberikan data tersebut,” katanya.
Stella berharap pusat AI bersama di UGM punya target jelas dan berorientasi pada kebutuhan Indonesia, Keberadaan pusat AI ini tidak boleh hanya berhenti pada aktivitas dan pembangunan prototipe, tetapi harus mampu menghasilkan solusi yang benar-benar bermanfaat.
Perkembangan AI saat ini, katanya, mampu menyelesaikan persoalan dengan aturan yang kaku menuju persoalan yang semakin terbuka dan kompleks. Perkembangan ini menuntut perguruan tinggi mampu mengantisipasi perubahan dan mempersiapkan SDM lebih baik lagi.
Ia juga menekankan pentingnya mengetahui persoalan yang hendak diselesaikan, waktu yang tepat untuk mengadopsi teknologi, serta pihak yang akan mengoperasikan AI dengan tetap menempatkan manusia sebagai pengendali. (*)
