Bukalapak Cari Dana Segar lewat Bursa Senilai Rp 21 T

WWW.SINYALMAGZ.COM – Bukalapak jelas terengah-engah untuk mengejar Tokopedia dan Shopee yang terus merajalela. Bahkan dari segi trafik jumlah pengunjung web yang merupakan salah satu indikasi sukses tidaknya sebuah e-commerce hanya sekitar 30 persen dari yang ditoreh Shopee pada kuartal 1 2021.

Shopee kalah bersaing oleh Tokopedia pada kurun tersebut. Menjadikan Tokopedia e-commerce paling ramai.

Keriuhan pengunjung web Bukalapak pada 3 bulan pertama tahun 2021 hanya mencapai 34,1 juta. Jumlah ini bahkan sedikit lebih tinggi dan punta potensi disalip oleh Lazada.

Tampaknya Bukalapak memerlukan daya dorong yang lebih kuat untuk bisa bersaing menjadi tiga besar. Dan hal itu harus dilakukan. Sementara Tokopedia memilih ber-merger dengan Gojek, sedangkan Shopee memiliki dukungan investasi yang sangat besar dari Singapura. Shopee juga menjadi pemain regional, memimpin e-commerce di Asia Tenggara. Jangkauan pasar Shopee lebih luas.

Meski saham Bukalapak dimiliki oleh 55 perusahaan (terbesar masih dimiliki owner yaitu PT Kreatif Media Karya sebesar 31,9 persen), namun Bukalapak sudah perlu melakukan ekspansi ke regional untuk membesarkan pasarnya. Di dalam negeri tentu saja sudah sangat sarat dan dominasi Tokopedia sangat kuat.

Maka belakangan ini, Bukalapak tengah menyiapkan untuk mencari dana segar lewat IPO. Target Bukalapak yang menggunakan kode saham BUKA siap mejeng di BEI pada 6 Agustus 2021.

Langkah ini sekaligus mencatatkan Bukalapak sebagai start up kelas unicorn yang pertama kali melantai di bursa efek. Jumlah saham yang bakal dilepas Bukalapak diperkirakan sekitar 25 miliar lembar dengan nilai per lembar mencapai Rp 850,-

Pelepasan saham sebesar ini setara dengan 25 persen saham kepemilikan Bukalapak secara keseluruhan. Dengan begitu diharapkan Bukalapak akan memperoleh dana segara senilai Rp 21 triliun.

Apakah dengan langkah Bukalapak memasuki bursa efek menandakan bahwa investor sudah mulai menyetop arus investasi mereka ke perusahaan pemula?

Tentu saja tidak. Namun dengan skala bisnis yang semakin membesar di mana kebutuhan akan modal pun kian meningkat, maka investor angel tentu saja semakin berpikir panjang. Walaupun pasar masih terus tumbuh, seperti di Asia Tenggara yang diperkirakan nilai belanja kotor lewat e-commerce pada 2025 dapat mencapai 309 miliar dolar.

Tetapi investor tampaknya lebih menyukai mencari perusahaan pemula yang bermain di “medan” lain. Seperti hari-hari belakangan ini yang menunjukkan “medan” kesehatan dan farmasi sedang naik menjulang. (*)

 

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled