WWW.SINYALMAGZ.COM – Kendati OpenAI memblokir akses layanannya di China, negeri ini tak sedikitpun khawatir. Perusahaan-perusahaan China seperti DeepSeek dan Alibaba bahkan telah menghasilkan sistem AI open source mereka sendiri.
China dengan cepat memperkecil ketertinggalan dari Amerika Serikat dalam persaingan untuk menciptakan teknologi yang menyaingi otak manusia. Dukungan pemerintah tidak setengah hati. Pemerintah China telah menghabiskan satu dekade untuk menyalurkan sumber daya untuk menjadi negara adidaya AI. Pemerintah menggunakan strategi sama yang digunakannya untuk mendominasi industri kendaraan listrik dan tenaga surya. Dukungan itu menyeluruh mulai chip dan pusat data hingga energi.
KEMANDIRIAN CHINA
Selama 10 tahun terakhir, Beijing telah mendorong perusahaan-perusahaan China untuk membangun kapabilitas manufaktur di industri-industri berteknologi tinggi yang sebelumnya bergantung pada impor. Pendekatan tersebut telah membantu China menjadi produsen sepertiga barang manufaktur dunia dan pemimpin dalam kendaraan listrik, baterai, dan panel surya. Pendekatan ini juga telah diterapkan pada komponen-komponen penting sistem AI canggih seperti daya komputasi, insinyur terampil, dan sumber daya data.
Pemerintah sangat percaya diri. Sebaliknya AS selalu gamang. Bahkan ketakutan dan sampai harus membatasi penjualan chip NVidia ke negara lain. Meski NVidia juga tak mau kehilangan pasar dan membuat chip versi khusus (H20), China tak peduli. Perusahaan macam Huawei malah terpicu untuk mengembangkan teknologi alternatif.
Di AS, perusahaan seperti Google dan Meta telah menghabiskan miliaran dolar untuk pusat data. Namun di China, pemerintahlah yang memainkan peran utama dalam pembiayaan infrastruktur dan perangkat keras AI, termasuk pusat data, server berkapasitas tinggi, dan semikonduktor.
Tidak hanya itu, untuk memusatkan bakat teknik di negara tirai bambu itu, pemerintah juga membiayai jaringan laboratorium yang merupakan tempat sebagian besar penelitian AI tercanggihnya dilakukan. Dalam hal ini juga melibatkan Alibaba dan ByteDance.
DANA DAN KETERLIBATAN DAERAH
Beijing malah menginstruksikan bank dan pemerintah daerah untuk melakukan penggalangan dana yang mendorong ratusan perusahaan rintisan. Sejak 2014, pemerintah telah menghabiskan hampir Rp 1.633 Triliun untuk dana pengembangan industri semikonduktor. April silam pemerintah mengatakan akan mengalokasikan Rp 138,8 triliun untuk mendukung perusahaan rintisan AI yang masih muda.
Di berbagai wilayah, pemerintah daerah telah mendirikan seluruh lingkungan yang berfungsi sebagai inkubator startup, seperti Dream Town di Hangzhou, sebuah kota di China selatan yang merupakan rumah bagi Alibaba dan DeepSeek, serta dikenal sebagai pusat bakat AI.
Para pendiri start up bilang dengan tanggungan biaya 10 – 15 persen ongkos penelitian di tahap awal sudah sangat membantu bergerak lebih jauh. Deep Principle umpamanya, sebuah startup di Hangzhou yang berfokus pada penggunaan AI untuk penelitian kimia berhasil mengumpulkan dana Rp 163 miliar tahun lalu.
Berbagai distrik kota menawarkan insentif yang berbeda-beda untuk menarik perusahaan rintisan ke wilayah mereka. Deep Principle menerima subsidi sebesar Rp 40 miliar dari sebuah distrik di Hangzhou ketika perusahaan rintisan tersebut pindah ke kota tersebut. Pemerintah kota bahkan membantu mencarikan ruang kantor dan perumahan karyawan. (*)
BACA JUGA: Meta Siap Habiskan Ratusan Miliar untuk Data Center AI


