Mira Murati, Perempuan Cerdas di Balik Cerdasnya ChatGPT

WWW.SINYALMAGZ.COM – Orang selalu mengidentikkan aplikasi kecerdasan buatan serba tahu, ChatGPT dengan Elon Musk. Tidak salah, bos Tesla dan Twitter ini memang pernah menjadi co-founder ketika OpenAI, developer ChatGPT didirikan. Itu terjadi pada 2015.

Musk bahkan menjawab sebagai salah satu direktur hingga 2018. Namun karena ketidakcocokan soal pendanaan, Musk akhirnya mundur pada 2018. Lalu belakangan ini, ia tengah kasak-kusuk mendirikan x.AI yang juga akan menghadirkan layanan artificial intelligence (AI) dengan sokongan dari Tesla dan SpaceX.

Kembali ke OpenAI yang aplikasinya menjadi inspirasi lahirnya berbagai versi aplikasi AI lainnya, ternyata menyimpan satu perempuan cerdas bernama Mira Murati.

Lahir di Vlore, Albania pada Desember 1988, perempuan cantik ini adalah otak dari ChatGPT. Sebagai CTO tugasnya terus menjaga dan mengembangkan ChatGPT menjadi platform yang akan mengubah dunia melalui layanan chatbot-nya.

Dia memegang gelar sarjana di bidang teknik mesin dan lulus dari Sekolah Teknik Thayer Dartmouth College. Posisi sebagai CTO OpenAI telah ia sandang selama empat tahun. Bekerja keras, bahkan ketika terjadi pandmi Covid-19 di seluruh dunia, aplikasi ChatGPT harus menunda launching. Namun justru karena itu, Murati menghabiskan waktu untuk menyempurnakan data base konten yang merupakan kekuatan ChatGPT.

Perempuan 35 tahun ini tipe pekerja keras. Pindah ke Kanada di usia 16 tahun. Berbekal gelar BEng (sarjana teknik) ia magang di Goldman Sachs di tahun 2011. Setahun kemudian sudah menclok di Zodiac Aerospace, perusahaan Prancis yang menyuplai perlengkapan pesawat.

Tak puas di sana, ia pindah lagi. Kali ini ke perusahan Musk, Tesla. Hanya bertahan tiga tahun. Perjalanan Murati berlanjut ke peruahaan teknologi komputasi. Yakni di Leap Motion. Perusahaan ini dikenal sebagai produsen perangkat sensor untuk berbagai peralatan.

Ketika OpenAI ditinggal Musk pada 2018, lalu hadir sosok baru perempuan satu ini. Hingga pada 30 November 2022, resmi ChatGPT hadir di berbagai platform baik mobile maupun desktop.

Serta merta, ChatGPT membuat Google deg-degan hinga meneluarkan “red alert” karena menganggap bahwa aplikasi maut ini bisa mengganggu trafik mesin pencarinya yang sudah sangat top of minds dan kerap diplesetkan sebagai “mbah Google”.

Bahkan Microsoft yang Bing-nya berstatus “mati tak hendak, hidup pun tak mau” akhirnya menyiapkan diri menjadi investor. Kabarnya siap menggelontorkan kocek 10 miliar dolar.

Di bawah Murati, karyawan OpenAI hanya berjumlah 375 orang. Namun dalam beberapa saat saja, valuasi OpenAI telah mencapai 30 miliar dolar.

Murati sebenarnya tidak berekspektasi tinggi terhadap ChatGPT. Namun hasil uji coba menunjukkan UI dan UX aplikasi ini menarik, berbeda, dan paling penting menyajikan data seperti yang diharapkan oleh pengguna. Orang-orang senang, bahkan kemudian menganggap bahwa kalau Google Search sudah terlalu umum dan menampilkan data yang begitu banyak (kadang bikin bingung pengguna ketika mengkurasi), maka ChatGPT menyederhanakan kekompleksan Google Search, fokus dan lebih tajam.

“Kecerdasannya” memilah dan menampilkan data itu lalu memicu orang untuk mengujinya. Melalui uji layaknya manusia, cuma yang diuji adalah kemampuan mesin cerdas ChatGPT menjawab pertanyaan.

Murati sempat ragu dan tak percaya diri ketika ditantang. Hasilnya, ChatGPT lolos tes uji lisensi medis Amerika, lolos tes tingkat MBA di Wharton Business School, dan empat ujian di empat fakultas hukum universitas besar.

Bagaimana sebenarnya ChatGPT bekerja?

“ChatGPT pada dasarnya adalah model percakapan yang besar. Jaring ‘saraf’ (digital) besar yang telah dilatih untuk memprediksi kata berikutnya,” kata Murati.

Murati mendeskripsikan, tantangan demi tantangan terus bermunculan. Karena semakin banyak dan besar bahasa yang diperoleh, semakin banyak fakta yang didapatkan, semakin tinggi pula tantangannya. Dan, pada dasarnya itulah dunia AI, ketika data membanjir dan membesar. Maka dibutuhkan lebih banyak ruang untuk memilahkan dan menyesuaikan.

Di laboratorium OpenAI, Murati menggunakan model untuk percobaan. Model digital ini menjadi bahan pengujian tentang jawaban dan cara menjawab dari berbagai pertanyaan. Penyuka buku Duiono elegies (buku puisi karya Rainer Maria Rilke) ini mengatakan seperti berdialog saja untuk menghasilkan “produk data” yang cocok dengan manusia.

Dunia AI telah hadir di depan mata. Pro dan kontra mulai terasa. Beberapa sekolah di Amerika memutuskan menahan agar aplikasi ChatGPT tidak menggantikan proses pendidikan yang telah mereka praktikkan bertahun-tahun.

Murati sadar sepenuhnya bahwa ChatGPT yang menginisiasi lahirnya aplikasi AI yang lebih fungsional, akan mengubah beberapa hal. Bahkan akan berkaitan dengan banyak sendi kehidupan. Sejumlah negara telah mengantisipasi hadirnya AI dengan perubahan regulasi atau membuat aturan-aturan baru.

“Penting bagi perusahaan seperti OpenAI untuk memberi kesadaran kepada publik untuk melakukan kontrol dan lebih bertanggungjawab,” kata Murati. Kendati begitu, orang-orang kreatif di belakang munculnya aplikasi AI, menurut penggemar lagu Aparanoid Android (Radiohead) ini lagi, membutuhkan banyak masukan sehingga antara teknologi dan regulasi dapat berjalan beriringan.(an)

 

 

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled