“Capex” 5G Tak Ganggu 4G

Target cakupan jaringan XL Smart hingga akhir tahun 2026 tidak hanya 88 kota/kabupaten di Indonesia hingga akhir 2026, karena pengembangan akan dilakukan hingga seluruh kawasan pinggiran kota serta desa dan kelurahan. Sementara saat ini cakupan jaringan 5G blanketcoverage XL Smart baru tersedia di sekitar 50 kota/kabupaten di berbagai wilayah Indonesia.

Perluasan jaringan dilakukan sesuai kewajiban yang diberikan pemerintah yang masuk dalam paket merger XL Axiata dan Smartfren April tahun lalu. Kewajiban lain, gabungan operator itu harus membangun 8.000 BTS baru di daerah terpencil dan menyerahkan spektrum frekuensi selebar 7,5 MHz X2 di 900 MHz kepada pemerintah pada akhir 2026.

Walau ekspansi untuk layanan 5G dengan frekuensi baru, butuh capex (capital expenditure – biaya modal) yang lebih banyak, tambahan 5G dikatakan tidak akan mengurangi porsi untuk pemerataan jaringan. XL Smart akan menjalankan kedua agenda bersamaan melalui strategi peningkatan kapasitas dan teknologi pada jaringan yang telah tersedia.

Kepada media belum lama ini, Reza Mirza, GH Corporate Communication & Sustainability XL Smart mengatakan, pendekatan upgrade BTS 4G menjadi 5G membuat pemerataan jaringan dan ekspansi 5G berjalan bersamaan, “Bukan trade-off,” katanya. Pendekatan itu memungkinkan pemanfaatan infrastruktur (BTS-menara) yang sudah ada guna pengembangan 5G.

Ekspansi teknologi baru tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan agenda pemerataan konektivitas dan target awal tercapai lebih cepat dari rencana. Kondisi itu, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk mendukung ekspansi jaringan, bukan mengurangi investasi untuk pemerataan.

Sementara beban kewajiban pemerintah lewat lelang spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz memastikan agenda pemerataan jaringan tetap berjalan. Dalam lelang spektrum, XL Smart mendapat 2×15 MHz pada pita 700 MHz dan 50 MHz pada pita 2,6 GHz.

Kendaraan mandiri

Frekuensi rendah di 700 MHz bisa digunakan untuk layanan yang bentangannya luas, seperti perkebunan, pertanian, pedesaan dan sebagainya. Sangat bagus untuk jaringan internet cepat sampai area terpencil, dan bisa menembus bangunan padat,

Sementara frekuensi menengah di 2,6 GHz memberi solusi layanan di kawasan padat, karena kapasitas yang dimunculkan sangat besar, sehingga jumlah pelanggan yang dilayani juga jauh lebih besar.

Jangkauan layanan 2,6 GHz sangat bagus untuk pengelolaan pabrik industri, kota pintar dengan kendaraan mandiri (autonomous vehicle kendaraan tanpa sopir), yang membutuhkan keberadaan BTS yang kuat tanpa putus. Juga untuk mendukung fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga area publik yang butuh koneksi data andal.

Beda dengan yang dilakukan Telkomsel dan Indosat, layanan 5G XL Smart merata, meliputi seluruh kawasan layanan yang dinamai blanket – selimut. Layanan XL Ultra 5G+ hanya menggunakan satu rentang frekuensi di 2300 MHz selebar 40 MHz, secara dedicated, tidak dicampur dengan spektrum lain, yang kapasitasnya bisa mencapai 500 mbps (megabit per second/per detik), dengan latensi (jeda) rendah pula.

Untuk layanan 5G, semula semua operator, Telkomsel, Indosat dan XL Smart menggunakan teknologi DSS (dynamic spectrum sharing – membagikan/menggabungkan spektrum secara dinamis). Menggabungkan sedikit-sedikit dari tiap spektrum yang digunakan layanan 4G di 850 MHz, 900 MHz, 1800 MHz dan 2100 MHz.

Penggabungan spektrum mampu membuat kapasitas yang dikeluarkan bisa mencapai 100 mbps – 200 mbps dari semula paling tinggi masing-masing maksimal 50-an mbps. Namun keberadaan layanan ini sering berkurang ketika “pemilik spektrum”, layanan 4G LTE, sedang digunakan banyak pelanggannya. (*)

Teks foto: Perawatan BTS XL Smart di Tanjung Ben, Bali

 

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled