Penggunaan AI Tingkatkan Emisi Karbon, Konsumsi Listrik dan Air

WWW.SINYALMAGZ.COM – Accanture, perusahaan konsultan teknologi merilis data mencengangkan. Laporan dari penelitian Accenture melaporkan perkiraan bahwa selama lima tahun ke depan, pusat data AI dapat mengonsumsi listrik sebanyak 612 terawatt-jam. Angka ini setara dengan total konsumsi daya tahunan di Kanada. Yang artinya pula akan menyebabkan peningkatan emisi karbon global sebesar 3,4%.

Persoalan tidak berhenti pada jaringan listrik. Konsumsi pada air tawar juga akan meningkat pesat. Pusat data AI juga diproyeksikan akan mengonsumsi lebih dari 3 miliar meter kubik air per tahun. Volume yang melampaui penarikan air tawar tahunan seluruh negara seperti Norwegia atau Swedia.

Google terang-terangan dalam laporan keberlanjutan terbarunya mengungkapkan bahwa pusat datanya mengonsumsi lebih banyak daya daripada sebelumnya. Pada tahun 2024, Google menggunakan sekitar 32,1 juta megawatt-jam (MWh) listrik, dengan 95,8% (sekitar 30,8 juta MWh) dikonsumsi oleh pusat datanya. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat energi yang digunakan pusat datanya pada tahun 2020, tepat sebelum maraknya AI konsumen.

IRONI LOMBA AI

Kekhawatiran tersebut menjadi sangat ironi dengan deru lomba adu cepat artificial intelligence (AI) dari berbagai perusahaan raksasa teknologi. Baru kemarin, misalnya, OpenAI setuju untuk menyewa sejumlah besar daya komputasi dari pusat data Oracle sebagai bagian dari inisiatif Stargate-nya. OpenAI bermaksud untuk menginvestasikan 500 miliar dolar selama empat tahun ke depan untuk membangun infrastruktur AI baru bagi OpenAI di Amerika Serikat.

Kapasitas tambahan dari Oracle berjumlah sekitar 4,5 gigawatt daya pusat data di AS. Padahal satu gigawatt sama dengan kapasitas dari satu reaktor nuklir dan dapat menyediakan listrik untuk sekitar 750.000 rumah.

Lantas, Meta dilaporkan berupaya untuk mengumpulkan 29 miliar dolar dari perusahaan modal swasta untuk membangun pusat data AI di AS. Sementara perusahaan milik Mark Zuckerberg ini sudah membangun pusat data AI senilai 10 miliar dolar di Louisiana Timur Laut.

Zuckerberg memang sangat ambisius. Ia pernah bilang, AS harus memperluas pembangunan pusat data AI dengan cepat atau berisiko tertinggal dari Tiongkok dalam perlombaan untuk mendominasi AI. Saat berbicara di Dwarkesh Podcast pada Mei silam, ia memperingatkan bahwa keunggulan Amerika dalam kecerdasan buatan dapat terkikis kecuali jika mengimbangi pembangunan agresif kapasitas pusat data dan perangkat keras berskala pabrik Tiongkok.

Pemerintah AS tampaknya seide dengan ambisi Zuckerberg. David O. Sacks, yang kini jadi penasihat AI Gedung Putih juga telah menggarisbawahi bahwa perluasan energi dan pusat data merupakan inti dari strategi AI Amerika.

Ia menekankan bahwa AS perlu membuka jalan bagi pengembangan infrastruktur dan energi agar dapat mengimbangi Tiongkok. Tentu termasuk data center AI.

TANGGUNGJAWAB LINGKUNGAN

Ambisi tanpa tanggungjawab itulah yang membuat Accenture mendesak agar para pemain AI secara bertanggung jawab mengembangkan dan merekayasa pusat data AI-nya dalam upaya untuk menyeimbangkan pertumbuhan dengan tanggung jawab lingkungan.

Bahkan Accenture telah menyiapkan metrik baru, yang disebutnya Sustainable AI Quotient (SAIQ), untuk mengukur biaya sebenarnya dari AI dalam hal uang yang diinvestasikan, megawatt-jam energi yang dikonsumsi, ton CO₂ yang dipancarkan, dan meter kubik air yang digunakan.

Dengan metrik tersebut akan membantu perusahaan menjawab pertanyaan dasar: “Apa yang sebenarnya kita dapatkan dari sumber daya yang kita investasikan dalam AI?” dan memungkinkan perusahaan tersebut mengukur kinerjanya dari waktu ke waktu.

Artinya pula perusahaan AI harus menginvestasikan jumlah chip AI yang dipasang yang jumlahnya disesuaikan dengan pemanfaatan dan kebutuhan energi tambahan dari pusat data. Data tersebut digabungkan dengan data regional tentang pembangkitan listrik, campuran energi, dan emisi. Sedangkan  penggunaan air dinilai berdasarkan konsumsi energi pusat data AI dan berapa banyak air yang dikonsumsi per unit listrik yang dihasilkan.

REKOMENDASI

Rekomendasi Accenture tentu masuk akal. Tidak bisa perusahaan melalaikan faktor lingkungan. Mereka harus mengoptimalkan efisiensi daya beban kerja AI dan pusat data dengan segala hal mulai dari opsi energi rendah karbon hingga inovasi pendinginan.

Perusahaan macam Meta, Google, OpenAI mesti menggunakan AI dengan cermat, dengan memilih model AI yang lebih kecil, dan model harga yang lebih baik untuk memberi insentif pada efisiensi.

Memang Google memastikan bahwa mereka membuat langkah-langkah signifikan untuk membersihkan pasokan energinya, bahkan di saat permintaan melonjak. Google mengaku memangkas emisi energi pusat datanya sebesar 12% pada tahun 2024, berkat proyek energi bersih dan peningkatan efisiensi. Mereka juga memanfaatkan lebih banyak dari setiap watt. (*)

BACA JUGA: Ini Dia Kamus Lengkap Artificial Intelligence Hanya Rp 5.500

 

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled