Indosat fokus menjalankan transformasi berbasis AI. Sejak 2024 mereka berkolaborasi dengan Nvidia, perusahaan semikonduktor dari AS untuk mengembangkan infrastruktur komputasi awan (cloud).
Indosat memasuki fase transformasi percepatan implementasi AI North Star, yang menjadi acuan perusahaan mengintegrasikan AI ke seluruh organisasi. Sekaligus memperluas bisnis berbasis AI, demi memperdalam loyalitas pelanggan dan membangun ekosistem kedaulatan AI Indonesia, yang efeknya mendorong pertumbuhan bisnisnya.
”Dengan strategi transformasi berbasis AI, Indosat dapat lebih relevan dalam setiap interaksi, tecermin dari keeratan yang semakin kuat, pengalaman pelanggan yang lebih baik, dan pertumbuhan yang berkelanjutan,” ujar Vikram Sinha, Presiden Direktur dan CEO Indosat, pekan lalu.
Dikatakan, anak usaha mereka, Lintasarta, menyediakan layanan graphic processing unit (GPU), yang dapat mengakselerasi aplikasi AI. Layanan itu memungkinkan perusahaan mengakses AI berkinerja tinggi tanpa harus membangun infrastruktur sendiri.
Indosat juga mengembangkan Sahabat-AI, platform terbuka untuk membuat teknologi AI semakin mudah diakses dan relevan dengan kebutuhan lokal melalui pemahaman terhadap bahasa serta budaya Indonesia. Model bahasa besar (LLM) AI ini bahkan disediakan dalam beberapa bahasa daerah.
Kebijakan ini telah membuat Indosat tumbuh lebih cepat yang pada triwulan I-2026 meraihpendapatan Rp 15,22 triliun, tumbuh sekitar 12% dibanding periode sama tahun lalu, Yoy (year on year) yang sebesar Rp 13,58 triliun. Paling besar didapat dari layanan seluler sebanyak Rp 12,70 triliun dari total Rp 15,22 triliun sementara layanan data berupa kuota internet hingga solusi digital, ini tercatat tumbuh 11,2 % Yoy.
Pendapatan segmen multimedia, komunikasi data, dan internet (MIDI) juga tumbuh signifikan sebesar 17,5 % menjadi Rp 2,31 triliun, sumber yang mencakup layanan teknologi informatika, internet untuk korporasi, solusi AI, hingga layanan komputasi.
Dari jumlah itu, laba operasional perusahaan sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) naik 13% jadi Rp 7,2 triliun.
Merangsek pasar
Di tataran persaingan ketat industri tiga operator – Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison (Indosat) dan XL Smart – Telkomsel masih memimpin dengan jumlah pelanggan seluler 158,4 juta, Indosat 94 juta dan XL Smart 69,4 juta. Jumlah pelanggan sebesar itu kini cenderung makin menyusut sehingga tidak sepenuhnya menjadi tolok ukur keberhasilan perusahaan.
Apalagi makin banyak perusahaan bukan operator yang mampu menguasai AI yang giat mengembangkan model AI untuk dijual. Misalnya Open AI memiliki ChatGPT, Google punya Gemini, dan Deepseek dengan model AI asal China yang merangsek pasar.
Keberhasilan itu oleh dewan komisaris Indosat bermuara pada diperpanjangnya jabatan Vikram Sinha selama lima tahun ke depan. Maksudnya untuk menjaga keberlanjutan pembangunan dan pertumbuhan bisnis perusahaan.
Namun Indosat dan kedua operator seluler lain perlu bersaing dengan berbagai perusahaan yang bukan operator yang menjadikan AI sebagai fokus bisnis. Selain harus mampu memanfaatkan momentum ini dengan baik, operator seluler kita harus juga mampu menjadi salah satu pemain AI dan digital unggul di kawasan.
Survei terbaru dilakukan Global System for Mobile Communications Association (GSMA) Intelligence, asosiasi operator telekomunikasi dunia, terhadap 580 perusahaan di Asia Tenggara. Mereka antara lain mendata potensi pengeluaran perusahaan dalam mengadopsi dan menjadikan AI sebagai lini bisnis baru.
Perusahaan seluler di Indonesia diperkirakan mengalokasikan rata-rata 10 persen dari pendapatan untuk transformasi digital pada 2025-2030. Dua pertiga responden menempatkan AI dalam tiga prioritas pengeluaran utama mereka sedangkan lebih dari separuh responden menilai, Internet of Things (IoT) berbasis 5G masih penting. (*)
Foto: Vikram Sinha
IOH
