Bermedsos Ria di Terowongan MRT

MODA Raya Terpadu, MRT yang sesi 1 membentang dari Lebakbulus hingga Bundaran Hotel Indonesia dengan 13 stasiun, sudah berkembang menjadi alat transportasi utama masyarakat. MRT ini pada jam tidak sibuk malah menjadi tujuan wisata baru penduduk Jakarta dan sekitarnya.

Menjadi sensasi karena selama 12 menit dari sekitar 45 menit perjalanannya, penumpang merasakan nikmatnya berkereta listrik di dalam terowongan, antara sekitar  Patung Pemuda hingga Bundaran HI. Apalagi, dengan menggunakan ponsel berkartu Smartfren atau Telkomsel, komunikasi jalan terus, video, medsos jalan terus di terowongan, hal yang hingga kini tidak dialami oleh pemakai ponsel dengan kartu operator lainnya.

Selasa (9/4) lalu merupakan waktu menguji layanan data kedua operator, utamanya Smartfren yang kini tidak lagi memberi layanan CDMA karena sudah mengadopsi GSM di semua spektrumnya, 850 MHz dan 2300 MHz. Kini kartu Smartfren baru, BosKu, bisa digunakan di semua ponsel pintar 4G LTE yang memberi bonus 360 GB dalam 12 bulan  hanya dengan Rp 50 ribu per bulan, satu giga data hanya dijual sekitar Rp 2.000.

Smartfren memasang 10 BTS (base transceiver station), dua di antaranya dipasang Stasiun Lebakbulus dan di Stasiun Bundaran Indonesia, 4 BTS di terowongan dan 4 lainnya di sepanjang jalur layang, dan setiap BTS berkapasitas 2.000 pengguna bersamaan. Pancaran dari BTS 4G Advance Smartfren disalurkan oleh kabel tembaga koaksial yang sudah dipasang sepanjang bagian dalam pagar jalur MRT oleh penyedia prasarana, PT Tower Bersama (TBIG).

Pancaran BTS yang dimasukkan ke kabel koaksial “dibocorkan” di setiap beberapa puluh meter, karena memang kabel koaksial bisa berfungsi sebagai antena. Teknologi ini namanya “leaking coaxial cable”, kabel koaksial yang dibocorkan, yang daya cakupannya sangat sempit, hanya sekitar radius 10 meter tetapi kapasitasnya tinggi.

Teknologi ini beda dengan pemasangan BTS pico yang cakupannya sekitar 200 meter sampai 300 meter dan umumnya dipasang di ruang (indoor BTS) dalam gedung, mal, stasiun, bandara dan ruang publik lainnya. Semua operator dapat menggunakan teknologi leaking coaxial cable di MRT ini, karena spektrum frekuensi yang digunakan para operator tidak sama.

Deputy CEO PT Smartfren Telecom, Djoko Tata Ibrahim, ketika memberi panduan penggunaan ponsel untuk bermedsos ria di dalam terowongan MRT

Sewa belum sepakat

Perjalanan selama 12 menit dalam terowongan itu, pemakai kartu Smartfren bisa mengunduh data sampai 63,72 megabyte per detik (mbps), untuk unggah sampai 4,88 mbps. Tayangan video pun berjalan lancar, tanpa putus selama perjalanan.

Kabel koaksial ini akan tetap digunakan operator walau kereta MRT sedang tidak berada di terowongan. Masalahnya, ketinggian jalur layang di MRT membuatnya mudah  mendatangkan gangguan, interferensi, karena semua operator memiliki banyak BTS di sepanjang kiri-kanan jalur MRT, dan masing-masing tumpang tindih.

Baik Smartfren maupun Telkomsel saat ini baru dalam tahap menguji coba jaringan, belum ada kesepakatan berapa besar sewa jaringan yang disiapkan oleh TBIG, penyedia prasarana. Walaupun sempat dimunculkan angka Rp 600 juta per bulan, namun perundingan yang dilakukan antara semua operator dan MRT/TBIG sejak beberapa pekan lalu belumlah tuntas karena operator menganggap angka ini terlalu tinggi.

Pada dasarnya operator menyadari bahwa investasi, baik yang dilakukan oleh MRT maupun TBIG cukup besar. Namun operator menghendaki perlakuan untuk seluler tidak sebagai komersial, tetapi sebagai pelayanan masyarakat.

Belum terjadi titik temu antara TBIG-MRT dan operator dalam soal harga sewa. Namun operator berharap harga sewa disamakan dengan sewa 10 menara milik TBIG yang rentangnya antara Rp 50 juta (untuk tiang/pole) hingga Rp 150 juta untuk menara, setahun.

Menurut Presdir dan CEO Smartfren, Merza Fachys, pemasangan BTS di MRT sama saja dengan pemasangan di jalan tol yang belum tentu menghasilkan pendapatan. Dalam kaitan pemasangan prasarana seluler ini operator tidak bisa menghitung untung atau rugi, karena lebih ke layanan terbaik untuk masyarakat. ***

 

 

We will be happy to hear your thoughts

Leave a reply

Sinyal Magazine
Login/Register access is temporary disabled