Semua operator seluler Indonesia.Telkomsel, Indosat dan XL Smart, berhasil memenangkan sebagian-sebagian spektrum pada pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz (2600 MHz). Lebar frekuensi yang dilelang mencapai 260 MHz, terdiri dari 70 MHz di spektrum 700 MHz dan 190 MHz di spektrum 2,6 GHz, yang semuanya untuk menjaga pertumbuhan industri sekaligus melebarkan layanan 5G.
Pada pita frekuensi 700 MHz, Telkomsel mendapat blok selebar 2×10 MHz dengan penawaran lelang Rp 642,5 miliar, XLSmart memenangkan 2×15 MHz, total penawaran Rp 1,06 triliun, sementara Indosat mendapat blok 2×10 MHz senilai Rp 507,48 miliar.
Pada pita frekuensi 2,6 GHz, Telkomsel memperoleh alokasi terbesar, 80 MHz yang nilai penawarannya Rp 545,84 miliar, Indosat meraih 60 MHz senilai Rp 372 miliar dan XLSmart mendapat 50 MHz dengan nilai tawaran Rp 231,6 miliar. Telkomsel memperoleh lebar spektrum terbanyak, 100 MHz, Indosat 80 MHz dan XL Smart meraih total 80 MHz.
Belum final, sebab peserta lelang diberi kesempatan melakukan sanggahan secara tertulis disertai bukti pendukung melalui sistem e-Auction paling lambat Selasa (14/7/2026) pukul 15.00 WIB. Tanpa ada sanggahan, hasil seleksi dilaporkan kepada Menteri Komunikasi Digital (Komdigi) untuk diterbitkan SK Penetapan Pemenang Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 700 MHz dan 2,6 GHz Tahun 2026.
Selain melunasi biaya awal (upfront fee) dan biaya hak penggunaan spektrum frekuensi radio (BHP IPFR), mereka juga wajib memenuhi komitmen pembangunan jaringan dalam jangka waktu paling lama 5 tahun. Komitmen mencakup penyediaan layanan 4G di 538 desa dan kelurahan yang telah ditetapkan pemerintah, serta penyediaan layanan 5G di kota dan kabupaten yang telah ditargetkan sedikitnya mencakup 51% populasi nasional.
Penambahan pita frekuensi radio ini bukan sekadar untuk memperluas jangkauan sinyal. Spektrum menjadi upaya pemerintah meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemerataan akses digital di seluruh Indonesia.
Spektrum emas
Lelang pun memberi kelegaan kepada operator dan industri yang telah lama menunggu lama, bahkan sejak dua menteri sebelumnya, di dekade lalu.
Tidak ada yang istimewa, kecuali bagi XL Smart yang “kehilangan” spektrum selebar 15 MHz di rentang 900 MHz yang harus diserahkan kepada pemerintah sebagai efek merger XL Axiata dan Smartfren di tahun 2025. Frekuensi cabutan ini kemudian akan dilelang pemerintah.
Kehilangan tadi sangat terasa bagi XL Smart, sebab spektrum itu termasuk frekuensi rendah bersama 700 MHz yang merupakan “spektrum emas” yang dapat digunakan untuk layanan IoT (Internet of Things) di layanan 5G. Walaupun, penyerahan spektrum tadi ke pemerintah baru akan dilakukan pada akhir 2026.
Dengan keberhasilan mendapat spektrum frekuensi selebar 2X15 Mhz di rentang 700 MHz, ketimpangan itu bisa tertutupi. Apalagi jika XL Smart mamenangi pertarungan di lelang berikut untuk 2X7.5 MHz di 900 MHz.
Keberhasilan mendapatkan pita selebar 50 MHz di spektrum 2600 MHz membuat peluang XL Smart memperluas layanan 5G Blanket-nya terbuka lebar. Selama ini operator itu memanfaatkan pita selebar 40 MHz di rentang 2300 MHz yang berteknologi TDD (time division duplex – menggunakan frekuensi yang sama untuk undah dan ungguh, bergantian). Beda dengan spektrum frekuensi 700 MHz dan 900 MHz yang berteknologi FDD (frequency division duplex – menggunakan frekuensi beda untuk unggah dan unduh).
XL Smart memanfaatkan 40 MHz di spektrum 2300 MHz, kemudian juga akan ada tambahan 50 MHz pada frekuensi 2600 MHz untuk layanan XL Ultra 5G+. Pemilikan spektrum ini akan memperbesar kesempatan mereka meluaskan cakupan layanan TDD dan menambah jumlah pelanggan 5G.
Sebanyak 25 kali
Beda dengan layanan spektrum rendah yang punya jangkauan radius hingga 5 kilometer, luasan cakupan 2300 MHz dan 2600 MHz hanya sekitar 200 meter – 300 meter. Akibatnya untuk luasan yang sama, spektrum ini harus menanam radio transceiver sekitar 25 kali lebih banyak dengan BTS berspektrum rendah.
Efeknya, untuk satu luasan sama, kapasitas spektrum menengah tadi menjadi lebih banyak hingga setidaknya 25 kali dibanding yang bisa ditampilkan frekuensi rendah.
Bentuk menara yang dibutuhkan juga berbeda. Untuk bisa menjangkau sebanyak mungkin pelanggan, spektrum rendah butuh menara BTS setinggi sedikitnya 32 meter, sementara spektrum medium itu hanya butuh pole setinggi lima meteran.
Dibanding 2 operator seluler lain, Telkomsel dan Indosat, jumlah BTS 5G XL Smart jauh lebih banyak. Pada awal 2026 ada merka sudah memiliki BTS sebanyak 12.631.
Telkomsel dan Indosat juga memberi layanan 5G dengan memanfaatkan teknologi DSS (dynamic spectrum sharing – pengunaan bersama spektrum secara dinamis). Mengaktifkan layanan 5G hanya bisa bergantian memakai sebagian spektrum 4G lTE, sehingga akhirnya yang muncul layanan 5G rasa 4G.
Saat ini Telkomsel memiliki 5.300 BTS 5G dan Indosat punya 6.872 BTS 5G. Layanan 5G mereka tidak luas, hanya ada di sekitar kantor pemasaran, misalnya GraPari.
Sementara layanan 5G XL Smart merata di seluruh jaringan yang dicakup layanan spektrum frekuensi 2300 MHz-nya, meliput isemua sisi kota (blanket). Dari rencana layanan XL Ultra 5G+ Blanket di 88 kota, kini telah terwujud di 83 kota.
Pemilikan 50 MHz di spektrum 2600 MHz akan memperluas dan memperkuat layanan 5G XL Smart, sehingga pengguna ponsel 5G otomatis menikmati layanan 5G tanpa perlu men-switch ponsel ke 5G begitu masuk kawasan yang diliput 5G. Ini beda dengan pelanggan Telkomsel dan Indosat yang setiap kali harus men-switch ponsel 5G-nya. (hw)
