PT Telkom akan mengembangkan struktur organisasi yang fokus pada segmen pelanggan yang juga akan meluas ke layanan lainnya, dalam strategi transformasi Telkom 30. Strategi ini dibangun dalam empat langkah fundamental: keunggulan operasional, streamlining, membuka potensi nilai guna memaksimalkan infrastruktur, dan melakukan transformasi model bisnis dan organisasi.
Keunggulan operasional dimaksudkan agar Telkom menjadi lebih tangkas, efisien, dan berorientasi pada pelanggan, sementara streamlining atau penyederhanaan portofolio untuk fokus pada area yang memberi penciptaan nilai (value creation) lebih besar bagi perusahaan, pemegang saham, dan negara. Pilar ketiga, membuka potensi nilai untuk memaksimalkan infrastruktur strategis, mulai dari serat optik, menara telekomunikasi, pusat data hingga kabel bawah laut.
Pilar keempat, melakukan transformasi model bisnis dan organisasi. “Telkom ingin mengembangkan organisasi menjadi sebuah strategic holding dengan fokus pada kolaborasi dan penciptaan nilai bagi para pemegang saham,” kata Dian Siswarini, Direktur Utama PT Telkom.
Satu ambisi utama, bergerak dari konektivitas dan infrastruktur menuju kecerdasan serta menciptakan berbagai peluang digital untuk masa depan. “Telkom akan mengubah-ulang organisasi agar lebih fokus dan memberi ruang bagi setiap lini bisnis dalam menangkap peluang di segmen pasarnya masing-masing,” katanya di Nusa Dua Bali, pekan lalu (26/8).
Diungkapkan, bisnis B2C (business–to–consumer) selama ini masih jadi penopang terbesar dan akan terus memanfaatkan basis pelanggan yang kuat dan jangkauan jaringan yang luas. Ada segmen B2B (business-to-business) infrastruktur untuk memperkuat posisi perusahaan di sektor infrastruktur digital, mulai dari pusat data, serat optik, menara, satelit, aset jaringan, hingga backbone.
B2B International akan menjangkau konektivitas global melalui kabel bawah laut dan layanan wholesale internasional, layanan TI B2B akan mengonsolidasikan kapabilitas digital. Semuanya untuk menangkap permintaan yang terus meningkat akan solusi perusahaan yang terintegrasi.
S
Strategic holding
Katanya, ini bukan sekadar perubahan infrastruktur. “Ini adalah langkah memosisikan-ulang Telkom Group menangkap gelombang pertumbuhan berikutnya dan tetap relevan dalam industri digital yang berkembang pesat,” tandasnya.
Pengalihan InfraCo yang jadi bagian transformasi bisnis PT Telkom sudah menjalani tahap kedua proses operasi yang akan mulaI Oktober 2026, setelah sebelumnya separuh bisnis dan aset telah dialihkan ke InfraNexia sejak 2025. Setelah tahap itu InfraNexia akan menjadi entitas yang menjalankan bisnis infrastruktur secara mandiri di dalam TelkomGroup.
Proses ini merupakan bagian agenda penggelaran kembali dan transformasi Telkom menuju struktur strategic holding dan posisi Telkom nantinya hanya sebagai strategist. Strategic holding adalah perusahaan induk yang hanya menjalankan fungsi manajerial, pengawasan dan arah kebijakan tingkat tinggi.
InfraNexia diperkirakan menguasai lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom, berupa jaringan akses pelanggan, tulang punggung inti (core backbone), hingga berbagai infrastruktur pendukung. Anak usaha ini akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan FO (fiber optik), termasuk 26.000 kilometer SKKL (sistem komunikasi kabel laut) domestik Indonesia, yang panjangnya hampir setara tiga kali mengelilingi Bumi.
Penguasaan aset akan memperkuat posisi InfraNexia sebagai penyedia konektivitas jumlah besar, grosir, (wholesale connectivity), sekaligus mendukung fokus perusahaan dalam membangun dan mengembangkan infrastruktur konektivitas digital nasional. Pemisahan InfraCo Tahap 2 langkah strategis dalam perjalanan transformasi Telkom 30, memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru, “Yang akan meningkatkan kapabilitas layanan infrastruktur, mengoptimalkan efisiensi bisnis, serta membuka peluang kemitraan strategis untuk mendukung percepatan konektivitas digital nasional,” ujar Dian Siswarini. (*)
Foto: Dian Siswarini/Humas PT Telkom
